Rupiah Diperkirakan Terdepresiasi Hari Ini, Imbas Faktor Ini

  • 06 Okt 2025 11:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pergerakan nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar AS, pada awal perdagangan hari ini, Senin (6/10/2025). Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah dibuka menguat tipis satu poin ke Rp16.562 per Dolar AS.

Tapi beberapa saat kemudian, Rupiah berbalik melemah pada pukul 10.30 WIB. Alhasil, Rupiah turun 0,18 persen atau 28 poin menjadi Rp16.592 per Dolar AS.

Pada penutupan akhir pekan kemarin, Rupiah menguat 0,21 persen atau 35 poin ke level Rp16.563 per Dolar AS. Analis Pasar Uang, Fikri C. Permana memperkirakan, Rupiah akan terdepresiasi hari ini.

"Kemungkinan Rupiah terdepresiasi di hari ini ke nilai tengah Rp16.640 per Dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah disebabkan karena faktor global," kata Fikri dalam keterangannya, Senin (6/10/2025).

Baca Juga :

Akhir Pekan, Rupiah Berhasil Menguat terhadap Dolar AS

IHSG Ditutup Naik ke Level 8.118

Institute of Supply Management (ISM) merilis data indeks manufaktur Amerika Serikat di level stabil. Baik indeks manufaktur global, indeks non-manufaktur dan indeks di sektor jasa.

Selain itu, investor global cenderung menghindari risiko (risk off) karena kekhawatiran berlanjutnya 'shutdown' pemerintahan AS. Kekhawatiran ini juga menjadi disampaikan Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto dalam analisisnya hari ini.

"Dari sisi global, kami melihat ketidakpastian masih sangat tinggi. Saat ini yang menjadi perhatian besar adalah ketiadaan data ekonomi AS sebagai dampak 'shutdown'," ujarnya.

Data ekonomi AS selama ini menjadi indikator penentu arah kebijakan ke depan. Pasar beranggapan penutupan pemerintah AS juga akan berdampak negatif terhadap aktivitas perekonomian.

"Kondisi ini akan menyebabkan the Fed lebih agresif menurunkan suku bunga," ucap Rully. Ekspektasi pasar yang ditunjukkan oleh CME FedWatch, memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga the Fed.

"Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga the Fed akan dilakukan pada 29 Oktober dan 10 Desember. Ekpektasinya masing-masing sebesar 97,8 persen dan 87,5 persen," kata Rully.

Hal ini pula, tambah Rully, yang menyebabkan BI cukup percaya diri dengan pemangkasan BI rate yang cukup agresif. Bank Indonesia juha memberi sinyal akan peluang penurunan suku bunga ke depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....