Pemerintahan AS Terancam Tutup, Nilai Tukar Rupiah Terdongkrak
- 29 Sep 2025 18:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan Senin (29/9/2025). Menurut Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,35 persen atau 58 poin ke posisi Rp16.680 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mencermati faktor eksternal yang mempengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Terutama potensi penutupan pemerintah AS pada minggu ini jika Kongres gagal menyepakati anggaran untuk operasional pemerintahan.
"Negosiasi bipartisan terkait rancangan undang-undang pendanaan masih berlangsung," ujarnya. Menurut Ibrahim, penutupan pemerintah AS dapat menunda rilis data penggajian pekerja non-pertanian dari yang seharusnya pada akhir pekan.
Penutupan pemerintahan AS juga akan mengganggu aktivitas perekonomian. Gedung Putih bahkan mengisyaratkan PHK di lembaga-lembaga federal, setelah sebelumnya mengeluarkan kebijakan cuti tanpa bayaran.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat 0,44 Persen Hari Ini
Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina yang kembali berkecamuk membuat rupiah bergerak fluktuatif. Hal ini juga dipengaruhi keputusan PBB yang mengenakan sanksi sepihak kepada Iran atas program nuklirnya.
Di dalam negeri, Ibrahim menekankan pentingnya konsistensi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Instrumen Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sudah memadai, tetapi koordinasi dan komunikasi perlu diperkuat agar ekspektasi pasar terkendali," ucapnya.
Persoalan konsistensi kebijakan juga menjadi sorotan ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Menurut dia, di dalam negeri belum ada arah ke depan yang dapat menenangkan kekhawatiran pasar.
"Pengambil Keputusan justru terlihat panik dan malah mengambil kebijakan yang tidak konsisten," ujarnya. Pada Jumat (26/9/2025), BI mengumumkan telah melakukan intervensi melalui berbagai instrumen moneternya untuk mendorong penguatan rupiah.
Sedangkan bank-bank BUMN yang semula menaikkan suku bunga simpanan dolar kemudian membatalkannya. Ini karena kebijakan itu justru menaikkan permintaan akan dolar AS yang membuat rupiah tertekan.
"Menurut kami, akan cukup sulit untuk mengembalikan kepercayaan pasar dalam jangka pendek dan menengah," kata Rully. Menurut dia, pasar membutuhkan kebijakan yang konsisten dan tidak menunjukkan kepanikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....