Rupiah Dibuka Menguat 0,44 Persen Hari Ini

  • 29 Sep 2025 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pergerakan nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari ini, Senin (29/9/2025), dibuka menguat terhadap Dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan, Rupiah dibuka naik 0,44 persen menjadi Rp16.664 per Dolar AS.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, Rupiah naik tipis 0,07 persen di posisi Rp16.738 per Dolar AS. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS hari ini yang mengalami pelemahan," kata Analis Pasar Uang, Lukman Leong dalam keterangannya, Senin (29/9/2025).

Baca Juga:

IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Hari Ini

Menkeu – BI Bertemu, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Pagi ini, indeks Dolar AS terpantau melemah 0,15 persen ke posisi 98. "Dolar AS terkoreksi setelah data inflasi AS yang sesuai dengan perkiraan yang membuka peluang The Fed memangkas suku bunga," ucap Lukman.

Inflasi atau indeks belanja konsumsi pribadi (PCE) AS pada Agustus 2025 tercatat 0,2 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan inflasinya tercatat 2,9 persen.

Indek Dolar AS, menurutnya, juga tertekan oleh sentimen konsumen yang di luar dugaan, dan direvisi lebih rendah. "Pergerakan Rupiah hari ini diperkirakan di rentang Rp16.650-16.750 per Dolar AS," ujar Lukman.

Sementara, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto melihat masih adanya potensi tekanan terhadap Rupiah. Dari sisi dalam negeri, Rully menilai kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten ikut mempengaruhi pasar uang.

"Banyak kebijakan dinilai terlalu pro-growth (pro-pertumbuhan ekonomi) dan tidak mengutamakan kehati-hatian. Kami menilai langkah penurunan suku bunga terlalu agresif dan berpotensi menekan rupiah secara konsisten dalam jangka menengah," kata Rully.

Pemerintah dan BI, lanjutnya, terlihat panik dalam mengatasi penguatan signifikan dolar AS. BI harus melakukan intervensi pada hari Jumat karena rupiah terus melemaah menuju ke Rp17.000 per Dolar AS.

Bank-bank himbara menaikkan suku bunga simpanan valas empat persen untuk menarik simpanan valas. Tapi malah mendorong aksi beli Dolar AS dan akhirnya kenaikan dibatalkan.

"Menurut kami, langkah-langkah inkonsistensi dan kekurang hati-hatian harus segera diperbaiki. Sehingga tidak terus memperlemah kepercayaan pasar terhadap pengambilan kebijakan ekonomi," kata Rully menegaskan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....