Menkeu – BI Bertemu, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

  • 26 Sep 2025 17:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis dalam penutupan perdagangan sore ini, Jumat (26/9/2029). Mengacu data Bloomberg, rupiah naik 0,07 persen atau 11 poin menjadi Rp16.738 per dolar AS.

Bank Indonesia dalam pernyataan persnya hari ini, menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas rupiah. BI melakukan intervensi baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Hari ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga melakukan pertemuan dengan Gubernur BI, Perry Warjiyo. “Ini jangka pendek saja, saya yakin rupiah akan balik ke level fundamentalnya,” kata Menkeu Purbaya dalam keterangannya di Kementerian Keuangan, usai pertemuan dengan BI, Jumat (26/9/2025).

Baca Juga:

Rupiah Anjlok, BI Siap Tempur Jaga Rupiah

Pajak dari Ekonomi Digital Sudah Terkumpul Rp41,09 Triliun

Menurutnya, rupiah harusnya menguat karena arus modal asing sudah masuk. “Ini agak aneh, asing masuk rupiah melemah,” ucapnya.

Hal itu, tambah Menkeu, menunjukkan ekspektasi pasar yang berbeda ikut mempengaruhi nilai tukar rupiah. Utamanya setelah Himpunan Bank Negara (Himbara) menaikkan suku bunga deposito valutas asing menjadi 4 persen per tahun.

“Itu otomatis men-trigger orang untuk beralih dari rupiah ke dolar AS,” kata Menkeu. Purbaya juga mengatakan tidak pernah memerintahkan Himbara menaikkan suku bunga deposito valas.

“Dengan konferensi pers sekarang yang menyatakan bahwa enggak ada kebijakan Menteri Keuangan yang empat persen itu. Saya pikir tekanan ke rupiah akan berkurang,” ujar Menkeu menegaskan.

Selain faktoer dalam negeri, faktor eksternal juga ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. Di antaranya kebijakan baru Presiden Trump terkait tarif perdagangan dan data terbaru perekonomian AS.

“Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 100 persen terhadap impor semua produk farmasi. Sehingga menimbulkan ketidakpastian dan sentimen risk-off pelaku pasar di pasar keuangan,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi.

Selain itu, data Produk Domestik Bruto kuartal kedua AS menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Data klaim pengangguran mingguan juga menunjukkan perbaikan.

“Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS . Indeks ini menjadi acuan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga,” kata Ibrahim.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....