Rupiah Menguat Tipis di Akhir Perdagangan
- 30 Jul 2025 19:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan Rabu (30/7/2025), meski penguatannya tipis. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,02 persen atau empat poin menjadi Rp16.405 per dolar AS.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS masih terbatas karena sentimen pasar masih menantikan akhir perundingan AS-Tiongkok. Selain itu, mereka juga memperkirakan akan ada kebijakan suku bunga The Fed.
“Menteri Keuangan AS, Scott Bessent di akhir perundingan menyebut pertemuan dengan Tiongkok konstruktif. Hanya saja pemerintah AS belum memberikan tanda tangan,” kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, Rabu.
Baca Juga:
Rupiah Menguat Tipis Setelah Beberapa Hari Melemah
Pefindo Kerja Sama dengan Tiongkok, Perkuat Pasar Keuangan
Sementara itu, keyakinan pasar semakin meningkat terhadap kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga. Bank Sentral AS itu diperkirakan belum akan melonggarkan kebijakan moneternya meski ada tekanan dari Presiden Trump.
Meski demikian, ada kemungkinan The Fed akan lebih terbuka untuk memangkas suku bunga. “Melihat tanda-tanda meredanya tekanan di pasar tenaga kerja dan kejelasan lebih lanjut terkait tarif Trump,” ucap Ibrahim.
Di dalam negeri, pasar mencermati upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi di semester kedua. Pemerintah optimis target pertumbuhan dapat tercapai di tengah melemahnya perekonomian global.
“Karenanya pemerintah melakukan percepatan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, hingga investasi. Di antaranya melalui sejumlah stimulus sebagai strategi jangka pendek guna mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, di tahun 2025,” ujar Ibrahim.
Untuk mencapai target pertumbuhan tahun itu penentunya ada di semester kedua. Pertumbuhan ekonomi semester II-2025 harus mencapai 5,4 persen.
Pemerintah sudah menyebutkan akan menggenjot kinerja perekonomian semester kedua ini dengan mendorong konsumsi pemerintah. Untuk itu pemerintah meminta kementerian dan lembaga yang anggarannya besar segera mengakselerasi serapan anggarannya.
“Karena konsumsi pemerintah pada triwulan I-2025 sudah terkontraksi sebesar -1,38 persen secara tahunan. Kontraksi disebabkan oleh kebijakan efisiensi anggaran, sebelumnya akhirnya dibebaskan kembali oleh Menteri Keuangan,” kata Ibrahin menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....