IHSG Ditutup Naik Tipis, Ditopang Aksi Beli Saham

  • 29 Jul 2025 19:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau dinamis sepanjang hari ini. Namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau.

IHSG ditutup naik 0,04 persen atau 3 poin ke level 7.617,91. “Kenaikan IHSG disertai aliran masuk modal asing, beli bersih oleh investor asing tercatat sebesar Rp448,53 miliar,” kata Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Selasa (29/7/2025).

Baca Juga:

Insentif Perumahan Diperpanjang, Menkeu Siapkan Stimulus Nataru 2025

Rupiah Makin Tertekan ke Posisi Rp16.404 per Dolar

Sejumlah Faktor Ini Bikin Nilai Tukar Rupiah Melemah

Hari Ini sebanyak 330 saham harganya tidak berubah, 317 saham harganya turun dan 309 saham harganya naik. Saham sektor bahan baku, energi dan saham sektor teknologi naik paling kuat, dan menopang kenaikan IHSG.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 26,48 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1.732.000 kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp14,24 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp13.701 triliun.

Menurut Tim Analis Phillip Sekuritas, IHSG menguat di saat bursa saham di Asia cenderung melemah. “Para investor mempertimbangkan sisi negatif dari kesepakatan dagang antara AS dan Uni Eropa,” ucapnya.

Para investor berpandangan tarif perdagangan yang tinggi akan tetap ada. Implikasinya kurang baik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Presiden Trump menurunkan tarif impor untuk Uni Eropa dari 32 persen menjadi 15 persen. Tarif impor 15 persen masih sangat tinggi jika dibandingkan tarif sebelumnya yang hanya sebesar 1-2 persen.

Kesepakatan tarif yang masih tinggu dinilai akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan membenani nilai tukar euro. Selain itu akan memberi tekanan pada tingkat pengembalian saham dan imbal hasil obligasi di seluruh Eropa.

Presiden Trump juga menetapkan ‘tarif dasar global’ antara 15-20 persen untuk semua mitra dagang yang belum mencapai kesepatan. “Ini merupakan salah satu tarif impor tertinggi sejak peristiwa Depresi Besar di tahun 1930an,” ujar Tim Phillip Sekuritas.

Di sisi lain, Trump membuat harga minyak mentah kembali melonjak. Penyebabnya, Trump mengancam tenggat waktu 10-12 hari bagi Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....