Meski Perdagangan Saham Naik Turun, IHSG Ditutup Menguat

  • 25 Jul 2025 21:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau naik turun dalam perdagangan Jumat (25/7/2025). Namun di akhir perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik ke zona hijau 0,17 persen ke level 7.543,50.

Sebanyak 372 saham mengalami penurunan harga, 321 saham stagnan, dan hanya 263 saham yang harganya naik. “Saham-saham sektor finansial, bahan baku dan infrastruktur naik paling kuat,” kata Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Jumat.

Baca Juga:

IHSG Bergerak Fluktuatif, Diperkirakan Terkoreksi Hari Ini

BPS: 23,85 Juta Penduduk Indonesia Masih Miskin

Saham-saham yang paling aktif diperdagangkan hari ini antara lain adalah BRPT, BBCA, WIFI, BMRI dan BBRI. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.426.000 kali transaksi.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 22,57 miliar lembar saham. Total nilai perdagangan sebesar Rp12,14 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp13.519 triliun.

Sementara itu, indeks saham di Asia pada hari ini ditutup melemah. “Investor melakukan aksi ambil untung menjelang batas waktu implementasi tarif perdagangan AS,” ucap Tim Phillip Sekuritas.

Para investor juga menantikan pertemuan kebijakan sejumlah bank sentral pekan depan. Diperkirakan bank-bank sentral akan mulai melakukan pemangkasan suku bunga.

Bank sentral Eropa (ECB) sudah memutuskan mempertahankan suku bunga pada Kamis (24/7/2025). ECB menghentikan sementara kampanye pelonggaran kebijakan moneter sambil menunggu dan menilai dampak dari kebijakan tarif perdagangan AS.

Bank sentral Tiongkok (PBOC) hari ini menyuntikkan sejumlah besar dana tunai ke sistem keuangan. “Langkah ini bertujuan untuk menghentikan aksi jual obligasi yang semakin marak sehingga mengganggu stabilitas pasar keuangan,” ujar Tim Phillip Sekuritas.

Dana tunai jangka yang disuntikkan PBOC mencapai 601,8 miliar yuan (sekitar Rp1,3 triliun) melalui instrumen Reverse Repurchase Agreement. Akibatnya, imbal hasil obligasi Pemerintah Tiongkok bertenor 30 tahun mulai merosot setelah naik selama tujuh hari berturut-turut.

Sementara di Jepang, tingkat inflasi di ibu kota Jepang, Tokyo, naik 2,9 persen secara tahunan di bulan Juli. Inflasi melambat dari kenaikan 3,1 persen di bulan sebelumnya.

“Upaya Pemerintah Jepang untuk memperlambat laju inflasi tampaknya berhasil. Meskipun tekanan kenaikan harga di Tokyo masih cukup tinggi,” kata Tim Phillip Sekuritas Indonesia menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....