IHSG Menguat, Tapi Analis Ingatkan Dampak Pelemahan Ekonomi
- 05 Jun 2025 10:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pergerakan indeks harga saham melanjutkan penguatannya dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan pantauan di Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka naik 0,47 persen ke level 7.102.
Saat penutupan perdagangan Rabu kemarin, IHSG juga naik ke level 7.069. "IHSG hari Kamis ini diperkirakan bergerak stabil diatas support, peluang IHSG naik tetap terbuka," kata Analis Pasar Modal dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Kamis (5/6/2025).
Level suppor IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.021 - 6.973. Sedangkan level resistansi di rentang 7.153 - 7.411.
Baca Juga:
Data Ekonomi AS Melemah, Rupiah Berpeluang Menguat Lagi
Bea Cukai Mulai Terapkan Aturan Barang Bawaan Penumpang
Meski IHSG berbalik menguat (rebound) pada Rabu kemarin, masih terjadi aliran keluar modal asing. Investor asing tercatat melakukan net sell (jual bersih) sebesar Rp440,2 miliar.
Saham-saham yang membantu penguatan IHSG kemarin adalah AMMN, MBMA, dan MDKA. Sementara saham-saham unggulan yang melemah adalah BBRI, BBCA, dan ASII.
"Investor asing sepertinya masih tetap berhati-hati dalam melihat perkembangan ekonomi Indonesia yang mulai menunjukkan pelemahan. Hal itu terlihat dari neraca perdagangan yang turun signifikan, serta indikator PMI manufaktur terkontraksi selama dua bulan berturut-turut," ucap Rully.
Penurunan BI rate bulan Mei kemarin menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan IHSG. Tapi belum mampu memulihkan pelemahan ekonomi dalam jangka pendek dan menengah.
Karena, tambah Rully, transmisi kebijakan moneter berupa penurunan BI Rate, membutuhkan waktu."Paling cepat satu semester untuk dapat berdampak positif terhadap perekonomian," ujarnya.
Sementara itu, di tengah prospek penerimaan negara yang menurun, pemerintah berhati-hati dalam memberi stimulus fiskal. Realisasi belanja pemerintah masih tergolong rendah, baru mencapai 22,3 persen terhadap total anggaran.
"Paket stimulus sebesar 24,4 triliun resmi yang dikucurkan pemerintah, menurut kami tidak akan mendorong perekonomian secara signifikan. Stimulus itu hanya untuk menahan supaya tidak terjadi perlambatan ekonomi yang makin dalam," kata Rully menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....