Rupiah Ditutup Menguat, Ditopang Prospek Pembicaraan AS-Tiongkok

  • 04 Jun 2025 17:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (4/6/2025). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,09 persen atau 14 poin menjadi Rp16.294 per dolar AS.

Penguatan rupiah berlangsung di tengah tanda tanya pasar global terhadap dampak kebijakan tarif AS. Terutama setelah Presiden Donald Trump menaikan tarif impor baja dan aluminium dua kali lipat menjadi 50 persen.

Baca juga: Data Ekonomi AS Buka Peluang Penguatan Rupiah

Gedung Putih juga mengabarkan bahwa Trump akan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. "Hal tersebut memicu harapan akan kesepakatan perdagangan yang lebih permanen," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.

Selain itu, konflik antara Rusia dan Ukraina masih memanas. Bank sentral AS, The Fed, juga memberi sinyal bahwa suku bunga belum akan berubah dalam waktu dekat.

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh OECD. Lembaga internasional itu menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,2 persen dari 4,9 persen menjadi 4,7 persen.

"Ini kedua kalinya OECD merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2025," ujarnya. Sebelumnya lembaga itu mereduksi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,3 persen dari 5,2 persen menjadi 4,9 persen.

OECD mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan perekonomian Indonesia melambat pada tahun ini. Di antaranya ketidakpastian kebijakan fiskal dan biaya pinjaman yang tinggi.

"Hal itu menyebabkan sentimen bisnis dan konsumen melemah," kata Ibrahim. Selain itu akan membebani konsumsi dan investasi swasta pada paruh pertama 2025.

Sementara itu, arus keluar modal asing berlangsung terus menerus karena kondisi ketidakpastian global yang membuat mata uang tertekan. Sehingga OECD memperkirakan defisit fiskal Indonesia akan meningkat pada tahun ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....