Faktor Eksternal Penyebab Rupiah Tertekan ke Level 16.296
- 28 Mei 2025 17:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (28/5/2025). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,06 persen atau sembilan poin ke level Rp16.296 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut sejumlah faktor eksternal yang mempengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Misalnya ketidakpastian kebijakan tarif ala Donald Trump, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal AS, dan perkembangan rancangan undang-undang pemotongan pajak.
"Juli 2025 merupakan saat tarif timbal balik Trump terhadap sejumlah ekonomi utama akan mulai berlaku," ujarnya. Menurut dia, perubahan sikap Presiden AS itu terhadap Uni Eropa memicu harapan tidak diberlakukannya ancaman tarif lainnya.
Baca juga: Hari Ini, Rupiah Berisiko Melemah Terhadap Dolar AS
Tingkat kepercayaan konsumen yang kuat juga meningkatkan risiko dan meredam kekhawatiran terhadap ekonomi AS. "Fokus sekarang adalah menunggu isyarat lanjutan terkait ekonomi AS dalam beberapa hari mendatang," ujar Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, Trump menuding Presiden Rusia Vladimir Putin "bermain api" sehingga dia mempertimbangkan sanksi baru untuk Moskow. Hal ini dapat membahayakan aliran energi dari Rusia dan mengganggu pasokan minyak global.
Sementara itu, perundingan nuklir putaran kelima antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. "Jika kesepakatan tidak tercapai, AS dapat menekan ekspor Iran lebih lanjut," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati prediksi kesulitan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen pada kuartal II 2025. Padahal pemerintah telah menggelontorkan stimulus jilid kedua yang menyasar masyarakat bawah.
Menurut dia, fokus kepada masyarakat kelas bawah memang penting untuk menjaga stabilitas sosial dan menjamin akses kebutuhan dasar. "Namun, masyarakat kelas menengah berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap total konsumsi nasional berdasarkan distribusi pendapatan," ujarnya.
Minimnya stimulus untuk masyarakat kelas menengah bukan hanya bakal menyebabkan Indonesia kehilangan peluang pertumbuhan. Ini juga akan menambah risiko terjadinya perlambatan ekonomi.
"Pertumbuhan ekonomi sesuai target akan sulit dicapai tanpa intervensi kebijakan yang secara spesifik menyasar kelas menengah," kata Ibrahim. "Stimulus untuk kelas menengah diberikan dengan jumlah dan durasi yang sesuai, misalnya melalui bantuan sosial tunai atau subsidi".
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....