IHSG Bangkit, Naik 3,97 Persen pada Penutupan Perdagangan

  • 03 Mar 2025 19:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik naik tajam pada penutupan perdagangan Senin (3/3/2025) sore. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 3,97 persen atau 249 poin ke level 6.519,66.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak di zona hijau dan sempat mencapai level tertinggi 6.570 dan terendah 6.347. Secara bersamaan, harga 474 saham naik sementara 301 saham stagnan dan 180 saham turun.

"Penguatan IHSG ditopang berbagai sentimen positif," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas. Misalnya, berlakunya aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang berpotensi memperkuat rupiah.

Baca juga: IHSG Diperkirakan Bergerak Konsolidasi Setelah Anjlok

Selain itu, JP Morgan meningkatkan rating saham BBRI dari sebelumnya netral menjadi overweight. "Ini dapat diartikan bahwa BBRI dinilai akan meningkatkan performa di masa datang," ucap Tim Pilarmas.

Pada sesi perdagangan kali ini, sektor bahan baku mengalami kenaikan tertinggi yaitu 4,13 persen. Sementara sektor kesehatan mengalami penurunan terdalam yaitu minus 0,02 persen.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 20,79 miliar lembar dengan frekuensi perdagangan 1,3 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp15,78 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp11.294 triliun.

Tim Pilarmas menambahkan bursa saham Asia juga didominasi penguatan. "Para investor tampak gembira karena pemimpin Eropa sepakat menyusun rencana perdamaian Ukraina untuk dibawa ke Amerika Serikat," ucapnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan tarif impor produk Kanada dan Meksiko mulai berlaku Selasa (4/3/2025). Namun, Presiden AS Donald Trump akan menentukan apakah tetap menggunakan tarif yang direncanakan sebesar 25 persen.

Sedangkan tarif tambahan sebesar 10 persen pada impor dari Tiongkok juga akan berlaku minggu ini. Sementara itu, National People's Congress akan membuka sidang tahunan ketiganya pada Rabu (3/3/2025) di Beijing.

Kongres akan membahas stimulus ekonomi dan kemungkinan tindakan balasan terhadap AS. Di sisi lain, pelaku pasar menantikan rilis inflasi zona Eropa dan PMI manufaktur AS yang keduanya diprediksi menurun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....