Tekanan Dolar Makin Kuat, Rupiah Turun 73,5 Poin
- 27 Feb 2025 16:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Rupiah melanjutkan pelemahannya pada penutupan perdagangan Kamis (27/2/2025) sore. Menurut Bloomberg, rupiah turun makin dalam 0,45 persen (73,5 poin) menjadi Rp16.454 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah makin tertekan karena perkembangan yang terjadi di negara Paman Sam. Terutama setelah rilis sejumlah indikator ekonomi yang meleset dari ekspektasi.
Tingkat keyakinan konsumen per Februari 2025 lebih rendah dari perkiraan sehingga memicu kekhawatiran melambatnya konsumsi swasta. "Padahal ini merupakan pendorong utama perekonomian AS," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.
Baca juga: Rupiah Kembali Tertekan Dolar AS pada Pembukaan Perdagangan
Perekonomian AS juga dibayangi kekhawatiran terhadap kebijakan tarif Presiden Donald Trump, serta potensi kenaikan inflasi dan harga pangan. "Para pedagang pasar uang berspekulasi ekonomi AS yang mendingin akan mendorong The Fed memangkas suku bunganya," ucap Ibrahim.
Trump mengancam akan mengenakan lebih banyak lagi tarif perdagangan global. Namun, dia juga mengisyaratkan kembali menunda pengenaan tarif untuk Kanada dan Meksiko kemungkinan hingga awal April.
Sementara itu, parlemen AS yang dikendalikan Partai Republik menyetujui berbagai kebijakan Trump. Misalnya paket pemotongan pajak serta langkah-langkah keamanan perbatasan yang nilainya mencapai USD4,5 triliun.
Menurut Ibrahim, pasar juga masih terus mengikuti perkembangan pembicaraan damai Rusia-Ukraina yang digagas Trump. Pemimpin Ukraina mengatakan kesepakatan damai bergantung pada hasil pembicaraan dan bantuan AS yang berkelanjutan.
Dari dalam negeri, Ibrahim terus mencermati target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebesar 8 persen. Kepala Negara menginginkan target tersebut dicapai secara bertahap hingga 2029.
"Pertumbuhan ekonomi harus meningkat tiap tahunnya," ujarnya. Misalnya pada 2025 pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3 persen, kemudian pada 2026 naik menjadi 6,3 persen dan seterusnya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut, Ibrahim menilai perlu penguatan kelas menengah. Saat ini kelas menengah di Indonesia sudah mencapai 72,2 persen dari total populasi.
"Mereka memberikan kontribusi 82,3 persen terhadap konsumsi rumah tangga nasional pada 2023," ujarnya. Menurut dia, peningkatan proporsi kelas menengah akan membantu mengentaskan penduduk miskin dan rentan miskin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....