Analis: Gaduhnya Kondisi Dalam Negeri Membuat Rupiah Melemah
- 27 Des 2024 15:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perkiraan rupiah akan menguat di akhir tahun meleset, posisi rupiah masih di atas Rp16.000 per dolar AS. Selain faktor eskternal pelemahan rupiah juga juga disebabkan kondisi di dalam negeri yang gaduh
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, kegaduhan dipicu oleh masalah politik dan kenaikan PPN 12 persen. Akibatnya investor yang sudah keluar enggan masuk lagi ke Indonesia yang membuat rupiah makin melemah.
"Investor masih tertuju pada kenaikan PPN 12 persen yang blunder. Undang-undang mengamanatkan kenaikan dijalankan bulan Januari 2025, tapi kondisi ekonomi global masih bermasalah dan berdampak ke Indonesia," kata Ibrahim, Jumat (27/12/2024)
Baca Juga :
Rupiah Masih Hadapi Tingginya Tekanan Dolar AS
Akhir Pekan, Indeks Harga Saham Diperkirakan Naik
Menurutnya, kenaikan PPN 12 persen tahun depan sebaiknya ditunda. Kelas menengah bawah masih mengalami kondisi ekonomi yang sulit saat ini.
Dari sisi politik, Ibrahim menyoroti penetapan Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto sebagai tersangka kasus Harun Masiku. "Gonjang ganjing politik ini juga membuat investor enggan kembali masuk," ucap Ibrahim.
Dana asing yang seharusnya masuk akhir tahun ini juga tidak terlalu signifikan. Walaupun BI terus intervensi di pasar tapi dengan kondisi ini belum bisa mempertahankan rupiah di bawah 16.000.
Begitu pula pemerintah yang menggelontorkan stimulus Bantuan Langsung Tunai dan bansos. Pemerintah dan OJK melakukan pengawasan di pasar.
"Tapi perpolitikan di Indonesia kurang stabil akibat banyaknya partai oposisi yang vokal. Ini membuat investor enggan masuk ke pasar dalam negeri," ujar Ibrahim.
Sedangkan faktor eksternal, banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya The Fed yang tahun 2025 tidak akan menurunkan suku bunga lebih banyak.
"Pemangkasan suku bunga yang tadinya disebut empat kali, kemungkinan hanya dua kali di tahun depan. Bahkan kalau kebijakan Trump nanti berlawanan dengan pasar, bisa saja The Fed malah menaikkan suku bunga," kata Ibrahim.
Faktor lainnya yang mempengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS, adalah konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa (Ukraina). Konflik yang terus berkecamuk membuat dolar AS menguat signifikan.
"Kondisi ekonomi Tiongkok yang sampai saat ini belum pulih, juga membuat kondisi ekonomi di kawasan Asia terganggu. Situasi ini berdampak pada ekonomi global, termasuk negara mitra dagangnya termasuk Indonesia," ujar Ibrahim menutup analisanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....