Akhir Pekan, Indeks Harga Saham Diperkirakan Melemah

  • 27 Des 2024 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia hari ini dibuka positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau di level 7.065

Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia Research memperkirakan, IHSG hari ini akan bearish (melemah). Pergerakannya di level support 6.930 dan level resistance 7.200.

Sejumlah bursa saham di dunia masih tutup karena libur Natal dan Tahun Baru, sehingga perdagangan sepi. Indeks saham di Bursa Asia pun dibuka beragam, ada yang naik dan ada yang turun.

"Para investor juga masih menunggu data ekonomi dari sejumlah negara. Seperti Jepang, data Penjualan Ritel, inflasi Tokyo, data produksi industri dan tingkat pengangguran," kata Tim Analis Phillip Sekuritas, Jumat (27/12/2024).

Baca Juga: Perdagangan Lesu, IHSG Ditutup Turun 30 Poin

Data lainnya yang ditunggu investor adalah data Industrial Profits dari Tiongkok. Selain itu dari Indonesia, data Neraca Perdagangan dan India data Cadangan Devisa.

Tim Analis Phillip Sekuritas juga mencermati tingkat obligasi Amerika Serikat yang mempengaruhi sentimen pasar. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS bertenor 10 Tahun turun 1 bps menjadi 4,58 persen.

"Yield US Treasury note bertenor 10 tahun sudah naik lebih dari 40 bps bulan ini. Sebagian besar kenaikan terjadi setelah bank sentral AS mengurangi proyeksi pemangkasan suku bunga di tahun 2025," kata mereka.

The Fed memberi sinyal pemangkasan suku bunga hanya menjadi dua kali saja di tahun depan. Pemangkasannya lebih sedikit dari dari potensi empat kali pemangkasan seperti yang di umumkan pada bulan September lalu.

Rilis data pasar tenaga kerja AS semalam juga memperkuat sinyal yang diberikan oleh The Fed. Data awal klaim pengangguran menunjukkan penurunan.

"Jumlah orang yang untuk pertama kali mencairkan tunjangan pengangguran turun 1.000 menjadi 219.000 pada Minggu kemarin. Data ini bertolak belakang dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan naik menjadi 224.000," kata Tim Analis Phillip Sekuritas.

Data ini memberi indikasi pasar tenaga kerja AS tetap solid menjelang tahun 2025, ini sejalan dengan pandangan The Fed soal inflasi dan tenaga kerja.

The Fed berpandangan inflasi adalah ancaman yang lebih besar bagi ekonomi AS dari pada perlambatan pasar tenaga kerja. Sehingga dibutuhkan kebijakan moneter yang cukup ketat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....