Rupiah Terjun Bebas, Turun 215 Poin Jadi Rp16.312

  • 19 Des 2024 18:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jatuh tersungkur pada penutupan perdagangan Kamis (19/12/2024). Menurut Bloomberg, rupiah anjlok hingga 1,34 persen atau 215 poin ke posisi Rp16.312 per dolar AS.

Rupiah terjun bebas setelah The Fed mengumumkan penurunan suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps). "Di sisi lain, bank sentral AS itu mengindikasikan perlambatan siklus pelonggaran moneternya,” kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.

Baca juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berisiko Melemah

The Fed mengindikasikan pemotongan suku bunga pada 2025 hanya berlangsung dua kali. Padahal ekspektasinya bank sentral AS itu memangkas suku bunganya hingga empat kali pada tahun depan.

"Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan penurunan suku bunga selanjutnya sangat bergantung pada upaya mengekang inflasi," ucap Ibrahim. Hal ini mencerminkan penyesuaian pembuat kebijakan terhadap potensi perubahan ekonomi AS di bawah pemerintahan Donald Trump.

Sementara itu, keputusan Bank of Japan mempertahankan suku bunganya membuat pasar kecewa karena justru berharap sebaliknya (naik). Jepang bersikap hari-hati terhadap prospek ekonomi dan arah inflasi yang diperkirakan meningkat pada 2025.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai insentif yang diberikan pemerintah tidak cukup mengurangi dampak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sektor industri menghadapi persoalan turunnya permintaan karena berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah.

"Selain itu, periode pemberian insentif juga terlalu pendek, misalnya hanya dua bulan untuk diskon tarif listrik," ucapnya. Daya beli masyarakat yang masih lemah juga membuat pemberian insentif kurang berdampak, bahkan berpotensi menimbulkan lebih banyak PHK.

Menurut Ibrahim, selain insentif pemerintah juga harus melindungi produk dalam negeri agar permintaannya tidak semakin menurun. "Saya mengimbau pemerintah memperketat kontrol tehadap produk impor baik legal apalagi ilegal, terutama dari Tiongkok," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....