Pasar Tunggu Rilis Inflasi AS, IHSG Diperkirakan Terkoreksi
- 11 Des 2024 10:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pergerakan indeks harga saham pada Rabu (11/12/2024) kemungkinan akan terkoreksi terbatas. Sehari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,21 persen atau 15 poin ke level 7.453.
Kenaikan IHSG disertai net buy (beli bersih) oleh investor asing senilai Rp50 miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBCA, ANTM, ASII, EXCL, dan BBNI.
"IHSG hari ini berpotensi terkoreksi terbatas," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Rabu (11/12/2024). Menurut dia, level support IHSG bergerak pada rentang 7.380-7.430 sementara level resist pada 7.500-7.520.
Baca juga: Perdagangan Saham Fluktuatif, IHSG Berakhir di Zona Hijau
Menurut Fanny, indeks harga saham global dipengaruhi berbagai isu di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Bursa efek Wall Street pada penutupan Selasa (10/12/2024) melemah karena pasar menunggu rilis data inflasi AS.
"Fokus investor tertuju pada laporan indeks harga konsumen AS," ujarnya. Menurut dia, hal itu dapat mempengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga pada rapat pimpinan 17-18 Desember 2024.
Inflasi utama AS diperkirakan naik 0,3 persen secara bulanan pada November 2024. Secara tahunan inflasi diperkirakan naik 2,7 persen.
Sementara itu, mayoritas bursa efek Asia justru menguat. Pasar merespons positif janji pemerintah Tiongkok untuk memangkas suku bunga dan mendorong konsumsi.
"Pernyataan Politbiro Tiongkok memicu kenaikan saham Hong Kong," ujar Fanny. Namun, itu justru menekan imbal hasil obligasi Pemerintah Tiongkok ke level terendah sepanjang masa.
Media pemerintah Tiongkok, Xinhua, melaporkan pejabat tinggi Partai Komunis mengubah sikap kebijakan moneter dari 'prudent' menjadi 'moderat longgar'. Hal ini mencerminkan respons mereka terhadap krisis sebelumnya, dengan janji untuk menstabilkan pasar dan menggenjot konsumsi.
"Namun, detail lebih lanjut kemungkinan diumumkan pada Konferensi Kerja Ekonomi Pusat akhir pekan ini," kata Fanny. Selain itu, pasar Asia juga menunggu data inflasi AS dan Bank Sentral Australia menahan suku bunga 4,35 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....