IHSG Terpuruk ke 7.114 Bersama Mayoritas Bursa Asia
- 29 Nov 2024 18:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perdagangan di Bursa Efek Indonesia masih lesu di akhir pekan ini. Sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun cukup signifikan 1,19 persen (85,89 poin) ke level 7.114.
Sepanjang hari ini, IHSG bergerak di zona merah dan menyentuh level terendah 7.107. Hari ini volume saham yang diperdagangkan sebanyak 26,60 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1,1 juta kali transaksi.
Total nilai perdagangan mencapai Rp13,42 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar hingga akhir pekan sebesar Rp12.001 triliun.
Mayoritas saham, sebanyak 416 saham harganya turun dan 323 saham stagnan. Hanya 206 saham yang harganya naik hari ini.
Saham-saham sektor 'consumer cyclicals' (barang konsumen sekunder) paling kuat naiknya sebesar 0,42 persen. Sedangkan saham-saham sektor energi mengalami penurunan paling dalam sebesar -1,67 persen.
Pelemahan IHSG bersamaan dengan menurunnya mayoritas indeks bursa saham di kawasan Asia. Pelemahan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi dari beberapa negara di kawasan Asia.
Tim Phillip Sekuritas Indonesia dalam analisisnya menyebutkan, data produksi industri Korea Selatan mencatatkan penurunan selama dua bulan beruntun. Data ini ikut memberikan sentimen negatif bagi pelaku pasar di Asia.
"Sementara Pemerintah Tiongkok kemungkinan akan memberikan dukungan lebih lanjut untuk ekonominya. Para pejabat ekonomi Tiongkok akan menjabarkan prioritas ekonomi tahun depan di acara 'The Central Economic Work Conference'," kata Tim Analis Phillip Sekuritas.
Selain itu, Tiongkok juga memperpanjang pengecualian tarif untuk barang-barang tertentu dari Amerika Serikat (AS). Langkah ini menyiratkan Tiongkok tidak ingin mengambil sikap keras di tengah ketegangan perdagangan dengan AS.
Di Jepang, inflasi yang dianggap sebagai indikator untuk tren nasional, naik 2,6 persen secara tahunan pada November. Angkanya naik dari 1,8 persen di bulan sebelumnya, disebabkan oleh lonjakan harga makanan segar.
Tingkat inflasi yang lebih tinggi cenderung memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan. Kinerja ekonomi yang cukup solid serta kekhawatiran atas depresiasi Yen belakangan ini menambah urgensi bagi BOJ untuk bertindak.
"Para pelaku pasar saat ini melihat 60 persen peluang BOJ akan kembali menaikkan suku bunga di Desember. Setelah BOJ bersikap ragu-ragu sebelum merilis data Inflasi," ujar Tim Analis Phillip Sekuritas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....