Sesuai Prediksi Analis, Rupiah Terdongkrak 63 Poin

  • 28 Nov 2024 18:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (28/11/2024). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,40 persen atau 63 poin ke posisi Rp15.871 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan yang terjadi di AS. Misalnya peningkatan indeks harga belanja konsumsi pribadi yang sesuai perkiraan serta solidnya perekonomian AS pada kuartal ketiga 2024.

"Ketidakmampuan mencapai target inflasi 2 persen juga kemungkinan peningkatan tarif impor," ujarnya. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membatasi kemampuan bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga pada tahun depan.

Baca juga: Rupiah Berpeluang Menguat setelah Rilis Data Inflasi AS

Kemudian, lanjutnya, para pedagang semakin tidak yakin dengan prospek suku bunga. Sementara itu, kekhawatiran investor di Tiongkok juga semakin meningkat akan terjadinya perang dagang dengan AS.

Pelaku pasar menantikan langkah yang akan diambil Beijing untuk memberikan stimulus. "Ini diperlukan untuk mengimbangi tekanan ekonomi dari setiap kenaikan tarif yang dikenakan AS," ucap Ibrahim.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati proyeksi lembaga internasional OECD terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. OECD memperkirakan perekonomian negara ini tumbuh 5,2 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun sebelumnya.

Pemerintah Indonesia juga menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. "OECD menilai konsumsi akan tetap kuat dan investasi swasta kemungkinan akan meningkat," kata Ibrahim.

Sementara itu, defisit fiskal akan melebar karena belanja publik untuk Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, berapa besaran defisit yang akan terjadi masih di bawah batas 3 persen.

OECD menyebutkan ada tidak hal yang dapat mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Yakni kenaikan harga pangan dan energi, minat investor berinvestasi di negara berkembang, dan bencana alam.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....