Waspadai Wabah Pes Berikut Sejarah Dan Cara Menanganinya.
- 01 Agt 2024 14:29 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya : Ditengah kemeriahan Olimpiade Paris Perancis tahun ini, ada sedikit "teror" yang tengah dihadapi oleh pemerintahan disana. Seperti yang di beritakan melalui Antaranews, Saat ini Polisi Prancis tengah menyelidiki surat mencurigakan yang terinfeksi kuman penyebab penyakit pes atau sampar yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin. Hal ini disampaikan langsung oleh media Prancis Minggu (28/7/2024) lalu.
Sebuah amplop berisi bubuk hitam ditemukan di pusat penyortiran surat di dekat kota Dijon. Dari tes awal terungkap bahwa bubuk itu positif mengandung kuman pes. Namun untuk memastikan kandungan yang sebenarnya, Pihak kepolisian setempat lantas mengirim amplop tersebut ke Universitas Louis Pasteur untuk pengujian lebih lanjut.
Selain tengah menindentifikasi siapakah orang dan motivasi apakah yang membuat seseorang mengirimkan terror tersebut. Polisi juga tertarik alasan mengapa si pengirim, lebih suka melakukan teror dengan mengirimkan amplop berisi bubuk yang ditengarai berisi penyakit pes, ketimbang model terror lainnya.
Wabah pes pertama kali dikenal pada abad ke-6, yang dikenal sebagai Pandemi Justinian, kemudian diikuti oleh wabah yang lebih terkenal yaitu Pes Hitam pada tahun 1347-1351. Setelah itu, terdapat sejumlah wabah pes yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia, Afrika, dan Amerika. Penyebaran pes sering kali terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi yang buruk, seperti kemiskinan, perang, dan mobilitas manusia yang tinggi. Dalam konteks modern, meskipun wabah pes tidak lagi menjadi pandemi global, kasus-kasus sporadis masih dilaporkan di beberapa negara.
Bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit ini sangat serius. Gejala awal pes meliputi demam, menggigil, dan nyeri otot, yang kemudian dapat berkembang menjadi pembengkakan kelenjar getah bening (bubonik), infeksi paru-paru (pneumonik), atau infeksi sistemik (septik). Jika tidak diobati, pes bisa berakibat fatal dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk mencegah kematian.
Penularan wabah pes dapat terjadi melalui beberapa cara. Pertama, melalui gigitan kutu yang terinfeksi, yang sering ditemukan pada hewan pengerat seperti tikus. Kutu tersebut dapat mencari host baru setelah hewan pengerat mati akibat infeksi. Kedua, penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi atau melalui luka terbuka. Ketiga, dalam kasus pes pneumonik, penularan dapat terjadi melalui percikan udara dari batuk atau bersin individu yang terinfeksi, mirip dengan penularan penyakit pernapasan lainnya.
Pengobatan untuk wabah pes saat ini lebih efektif dibandingkan pada masa lalu. Antibiotik seperti streptomisin, tetracycline, dan gentamicin telah terbukti efektif dalam mengobati infeksi Yersinia pestis jika diberikan dalam waktu yang tepat. Selain itu, terapi suportif seperti penggantian cairan dan pengelolaan gejala juga penting dalam proses penyembuhan. Namun, kesadaran masyarakat akan gejala dan tanda awal penyakit ini sangat krusial, karena pengobatan yang terlambat dapat berakibat fatal.
Pencegahan wabah pes dapat dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama, pengendalian populasi hewan pengerat di lingkungan tinggal dan mengurangi tempat-tempat perkembangbiakan kutu adalah hal yang penting. Kedua, penyuluhan kesehatan masyarakat mengenai cara-cara penularan dan gejala penyakit dapat meningkatkan kewaspadaan serta respons cepat terhadap potensi wabah. Ketiga, vaksinasi terhadap hewan peliharaan di daerah endemik juga dapat membantu mengurangi risiko penularan. Keempat, menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik sangat penting dalam mencegah kontak dengan hewan atau lingkungan yang terinfeksi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....