Hari Cerebral Palsy Sedunia, Pentingnya Mengenali Gejala sejak Dini
- 06 Okt 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perkembangan motorik merupakan indikator kunci dalam mengevaluasi kondisi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
- Keterlambatan atau pola gerakan yang tidak normal dapat menjadi tanda awal cerebral palsy yang memerlukan perhatian medis.
- Deteksi dini melalui pengamatan perkembangan motorik anak penting untuk penanganan dan intervensi dini yang lebih efektif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan motorik menjadi salah satu petunjuk penting untuk melihat kondisi tumbuh kembang anak. Keterlambatan atau pola gerakan tertentu dapat mengarah pada tanda cerebral palsy.
Melansir Mandaya Hospital Group, cerebral palsy merupakan gangguan motorik akibat kerusakan otak selama perkembangan bayi. Kondisi ini dapat memengaruhi postur, koordinasi, kekuatan otot, serta kemampuan anak mengendalikan gerakan tubuh.
Kerusakan otak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, atau awal kehidupan anak. Infeksi, kekurangan oksigen, kelahiran prematur, cedera kepala, dan gangguan aliran darah termasuk faktor yang meningkatkan risiko.
Cerebral palsy dapat menimbulkan gejala berbeda karena area otak yang terdampak tidak selalu sama pada setiap anak. Melansir dari Alodokter, gejalanya dapat mencakup gangguan gerak, koordinasi, tumbuh kembang, penglihatan, pendengaran, hingga kemampuan berbicara.
Salah satu ciri yang mudah diperhatikan ialah keterlambatan anak mencapai kemampuan motorik sesuai tahapan usianya. Bayi dapat terlambat berguling, duduk, merangkak, atau berjalan.
Pada bayi berusia kurang dari enam bulan, orang tua dapat mengamati beberapa tanda melalui gerakan sehari-hari. Kaki bayi dapat menyilang atau kaku ketika diangkat, sedangkan bagian tubuh lain terasa lemas.
Memasuki usia enam bulan, pola gerakan bayi dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai kemungkinan gangguan perkembangan motorik. Bayi yang tidak berguling, sulit menyatukan tangan, atau hanya meraih benda menggunakan satu tangan perlu diperhatikan.
Bayi berusia lebih dari sepuluh bulan dapat menunjukkan pola merangkak yang tidak seimbang. Mereka hanya menggunakan satu tangan dan kaki, menyeret bagian tubuh lainnya, atau belum mampu berdiri dengan bertumpu.
Pada anak yang lebih besar, ciri cerebral palsy dapat terlihat melalui postur, keseimbangan, dan kemampuan menggunakan anggota tubuh. Anak dapat merangkak memakai satu sisi tubuh atau kesulitan melakukan aktivitas motorik halus.
Gangguan motorik halus dapat terlihat ketika anak kesulitan mengancingkan pakaian, memegang alat makan, atau menggosok gigi. Anak juga dapat berjalan jinjit, menyeret kaki, atau mengalami gangguan keseimbangan.
Namun, mendeteksi cerebral palsy tidak hanya dilakukan dengan mengamati tanda yang muncul pada bayi atau anak. Melansir Rumah Sakit Pondok Indah, dokter menilai tumbuh kembang, kemampuan melihat, mendengar, berbicara, serta riwayat kehamilan.
Dokter dapat melanjutkan pemeriksaan untuk memastikan penyebab gejala dan menilai kondisi otak serta fungsi saraf anak. Pemeriksaan dapat mencakup pemeriksaan fisik, evaluasi tumbuh kembang, tes darah, EEG, CT scan, MRI, atau USG kepala.
Pemeriksaan rutin pada dua tahun pertama membantu dokter mengenali keterlambatan perkembangan lebih awal. Karena gejalanya terkadang samar, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi ketika menemukan pola perkembangan yang berbeda. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....