Mengenal Meningitis Belt, Wilayah Afrika yang Rawan Wabah
- 05 Okt 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Setiap 5 Oktober dunia memperingati World Meningitis Day atau Hari Meningitis Sedunia untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini.
- Meningitis adalah peradangan pada selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang yang dapat membahayakan kesehatan.
- Penyakit meningitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk bakteri, virus, jamur, parasit, atau penyebab noninfeksi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap tanggal 5 Oktober, dunia memperingati World Meningitis Day atau Hari Meningitis Sedunia. Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang meningitis, gejala, dan pencegahannya.
Dikutip laman WHO, meningitis merupakan peradangan pada selaput yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini dapat disebabkan bakteri, virus, jamur, parasit, atau penyebab noninfeksi.
Di dunia, terdapat wilayah yang dikenal sebagai meningitis belt atau sabuk meningitis. Wilayah ini berada di Afrika sub-Sahara dan membentang dari Senegal hingga Ethiopia.
Lalu, mengapa wilayah tersebut disebut meningitis belt?. Sebutan itu merujuk pada kawasan memanjang yang memiliki risiko tinggi terhadap wabah meningitis berulang.
WHO menyebut meningitis belt mencakup 26 negara di Afrika sub-Sahara. Risiko wabah meningitis meningokokus berbeda-beda di setiap negara dan wilayah.
Meningitis meningokokus disebabkan bakteri Neisseria meningitidis yang dapat menyebar melalui cairan dari saluran pernapasan. Bakteri tersebut dapat menyebabkan wabah besar ketika kondisi penularan mendukung.
Wabah lebih sering terjadi dalam kondisi tertentu, terutama ketika banyak orang berada berdekatan. Contohnya, tempat padat, kamp militer, pasar ramai, dan lokasi pengungsian.
Kawasan ini juga memiliki pola wabah yang berkaitan dengan musim kering. WHO mencatat wabah besar biasanya terjadi antara November hingga Juni, meski waktunya berbeda setiap wilayah.
Pada musim kering, debu, kelembapan rendah, dan kondisi lingkungan dapat meningkatkan risiko penularan. Infeksi saluran pernapasan juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko penyakit.
Besarnya risiko tersebut terlihat dari laporan terbaru WHO mengenai kawasan meningitis belt. Pada 2025, sebanyak 24 dari 26 negara melaporkan 21.526 dugaan kasus meningitis dan 971 kematian.
Meski begitu, meningitis bukan hanya masalah di kawasan Afrika tersebut. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa.
Gejala meningitis dapat berupa demam, sakit kepala, leher kaku, mual, muntah, dan sensitif terhadap cahaya. Meningitis bakteri merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin.
Vaksinasi menjadi salah satu cara utama untuk mencegah beberapa jenis meningitis bakteri. WHO mencatat vaksin meningokokus telah membantu menurunkan penyakit akibat serogrup tertentu, atau kelompok bakteri dengan karakteristik tertentu.
Menariknya, vaksin meningokokus serogrup A telah memberikan perubahan besar di kawasan meningitis belt. Sejak vaksinasi massal dimulai, kasus meningitis serogrup A menurun hingga 99 persen pada populasi yang divaksinasi.
Meskipun pencegahan terus berkembang, wabah meningitis meningokokus masih terjadi di kawasan tersebut. Karena itu, vaksinasi, pengawasan penyakit, dan penanganan cepat tetap menjadi bagian penting pencegahan. (Rahmania Ulfah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....