Kenali Perubahan Kepribadian sebagai Gejala Penyakit Alzheimer

  • 21 Sep 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perubahan kepribadian dapat menjadi gejala Alzheimer, termasuk mudah marah, curiga, takut, agresif, atau menarik diri.
  • Perubahan perilaku bisa muncul sejak tahap awal dan semakin berat seiring perkembangan penyakit, termasuk depresi, delusi, dan halusinasi.
  • Mengenali perubahan sejak awal penting bagi keluarga, sehingga penderita dapat diperiksa dan mendapat penanganan yang sesuai.

RRI.CO.ID, Jakarta — Setiap 21 September diperingati sebagai World Alzheimer’s Day atau Hari Alzheimer Sedunia. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan pemahaman tentang Alzheimer dan gejalanya.

Alzheimer sering dikenal sebagai penyakit yang membuat seseorang mudah lupa. Padahal, penyakit ini juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir, suasana hati, perilaku, dan kepribadian.

Kementerian Kesehatan menyebut perubahan perilaku dan kepribadian sebagai salah satu gejala yang dapat muncul pada penyakit Alzheimer. Perubahan tersebut dapat membuat seseorang menjadi mudah marah, curiga, takut, atau menarik diri dari pergaulan.

Perubahan kepribadian juga tidak selalu muncul ketika penyakit sudah parah. Penjelasan dari berbagai sumber mengatakan bahwa perubahan suasana hati dan minat dapat muncul sejak tahap awal Alzheimer.

Pada tahap berikutnya, perubahan perilaku dapat menjadi lebih jelas dan sulit dikendalikan. Seseorang bisa lebih mudah marah, frustrasi, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif.

Rasa curiga terhadap orang lain juga dapat muncul pada penderita Alzheimer. Kementerian Kesehatan menyebut penderita bisa merasa barangnya dicuri atau sengaja disembunyikan orang lain.

Perubahan tersebut dapat membuat keluarga merasa bingung menghadapi sikap yang berbeda dari sebelumnya. Karena itu, perubahan perilaku sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sifat buruk atau sekadar perubahan suasana hati.

Penderita Alzheimer pada tahap menengah dapat mengalami halusinasi atau delusi. Halusinasi membuat seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada, sedangkan delusi membuat seseorang mempercayai sesuatu yang tidak nyata.

Eka Hospital juga mencatat perubahan kepribadian, perilaku, delusi, dan halusinasi sebagai gejala Alzheimer. Gejala tersebut dapat semakin berat seiring perkembangan penyakit dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berbagai sumber menjelaskan bahwa perubahan jaringan otak akibat Alzheimer dapat memengaruhi suasana hati dan perilaku. Penderita dapat mengalami depresi, menjadi acuh, mudah tersinggung, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Perubahan mood, kepribadian, dan perilaku sebagai gejala Alzheimer. Perubahan tersebut antara lain menjadi lebih agresif atau lebih mudah curiga terhadap orang lain.

Meski Alzheimer belum memiliki obat yang dapat menyembuhkan penyakit secara total, penanganan tetap dapat dilakukan. Pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk mengetahui kondisi pasien dan menentukan penanganan yang sesuai.

Mengenali perubahan perilaku sejak awal dapat membantu keluarga memahami kondisi yang sedang dialami. Jika perubahan ingatan, perilaku, atau kepribadian mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....