IDAI Ungkap Risiko Komplikasi Neurologis akibat Influenza
- 18 Sep 2026 17:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Balita berusia semakin muda berisiko mengalami komplikasi influenza termasuk gangguan neurologis dan kerusakan otak.
- Influenza A dapat menyebabkan kerusakan otak dengan angka prevalensi sekitar 0,2 persen, meski tergolong jarang terjadi.
- Komplikasi influenza lebih berisiko terjadi pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu atau penyakit penyerta yang memerlukan kewaspadaan khusus.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan balita berusia semakin muda berisiko mengalami komplikasi influenza, termasuk gangguan neurologis yang jarang terjadi. Komplikasi tersebut lebih berisiko terjadi pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu atau penyakit penyerta.
“Influenza A dapat menyebabkan komplikasi hingga kerusakan otak, meski kasus tersebut tergolong jarang dengan angka sekitar 0,2 persen. Namun, kondisi itu tetap perlu diwaspadai karena dapat terjadi pada anak dengan faktor risiko tertentu,” kata Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Anggraini Alam saat konferensi pers via Zoom Meeting di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.
Anggraini menyebut, sekitar empat dari 100 ribu anak penderita influenza dapat mengalami gejala neurologis. Kondisi tersebut menunjukkan komplikasi neurologis akibat influenza tergolong jarang, tetapi tetap perlu diwaspadai.
| Baca juga: IDAI Ingatkan Risiko Influenza A pada Anak |
“Sekitar empat dari 100 ribu anak yang terkena influenza dapat mengalami gejala neurologis, dengan mayoritas akibat influenza A. Sekitar 80 persen kasus gejala neurologis tersebut berkaitan dengan influenza A,” ucap Anggraini.
Menurut Anggraini, risiko komplikasi berat umumnya meningkat pada anak yang memiliki komorbid atau mengalami kondisi immunocompromised. Anggraini menegaskan, infeksi yang menyerang otak berbeda dengan kejang demam yang kerap terjadi pada anak.
“Pada umumnya memang ada komorbidnya, ada immunocompromisenya yang meningkatkan risiko komplikasi dari flu yang berat. Sangat berbeda, yang namanya kejang demam itu betul-betul di luar susunan saraf otak yang merusak otak,” ucap Anggraini.
Anggraini menjelaskan, kejang demam umumnya terjadi pada anak berusia enam tahun ke bawah ketika mengalami demam. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi riwayat keluarga yang memiliki kejang demam pada anak sebelumnya.
“Jadi, sangat berbeda antara kejang demam dengan infeksi yang menyerang otak pada anak. Infeksi otak dapat disebabkan virus, bakteri, parasit, hingga jamur yang menyerang sistem saraf anak,” ujar Anggraini.
Anggraini menekankan, komplikasi neurologis akibat influenza sangat jarang terjadi pada anak sehat tanpa penyakit penyerta. Risiko komplikasi tersebut lebih perlu diperhatikan pada anak dengan kondisi kesehatan tertentu atau komorbid.
“Komplikasi akibat influenza tidak serta-merta terjadi pada setiap anak, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan baik. Kasus komplikasi sangat jarang terjadi apabila anak dalam kondisi sehat tanpa penyakit penyerta,” ujar Anggraini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....