IDAI Ingatkan Risiko Influenza A pada Anak

  • 18 Sep 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Influenza A memiliki kemampuan bermutasi lebih cepat dibandingkan influenza B dan menjadi fokus utama kewaspadaan kesehatan masyarakat.
  • Prof. Dr. dr. Anggraini Alam dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI menekankan bahwa virus ini cepat sekali melakukan mutasi dan memerlukan kehati-hatian khusus.
  • Influenza A berpotensi memicu pandemi jika mengalami perubahan antigenik tertentu yang meningkatkan transmisibilitas dan virulensinya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai influenza A yang memiliki kemampuan bermutasi lebih cepat. Influenza A lebih dominan dibandingkan influenza B dan berpotensi memicu pandemi jika mengalami perubahan antigenik tertentu.

“Yang paling sering terjadi adalah justru flu A. Ternyata flu A ini yang kita harus hati-hati karena dia hobinya cepat sekali mutasi,” kata Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Anggraini Alam saat konferensi pers via Zoom Meeting di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Ia menjelaskan, influenza A dapat menginfeksi manusia maupun hewan, terutama babi, sehingga mutasi virus perlu diwaspadai. Perubahan virus tersebut menjadi perhatian karena influenza A memiliki kemampuan bermutasi dan berpotensi menyebar luas.




“Influenza A bisa menyebabkan pandemi ketika mengalami mutasi tertentu, seperti yang terjadi pada Spanish flu dan swine flu. Karena itu, kita harus mewaspadai perubahan virus influenza A yang dapat meningkatkan penyebaran dan dampaknya,” ucapnya.

Anggraini mengatakan influenza A maupun B dapat menyerang siapa saja, tetapi kelompok tertentu berisiko mengalami gejala lebih berat. Kelompok tersebut meliputi anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

“Influenza A maupun B dapat menyerang siapa saja, tetapi risiko gejala berat lebih tinggi pada kelompok tertentu. Kelompok berisiko tersebut meliputi anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid,” ujarnya.

Ia menambahkan, influenza berbeda dengan flu biasa atau common cold karena dapat menyebabkan peradangan saluran pernapasan. Peradangan akibat influenza tersebut dapat membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga kondisi saluran pernapasan pulih.

“Flu dia itu lebih berat dan begitu dia masuk dia akan mengikuti bagaimana DNA genetik kita. Sehingga dia bisa memperbanyak dirinya di dalam sel kita sampai sel kita rusak,” kata Anggraini mengungkapkan.

Menurutnya, anak termasuk kelompok berisiko tinggi terinfeksi influenza, terutama mereka yang memiliki komorbid atau menjalani perawatan lama. Risiko meningkat pada anak yang berada di lingkungan padat, termasuk tempat penitipan anak atau day care.




“Anak-anak itu belum banyak terpapar oleh flu. Sehingga yang masih kosong, rendah, belum mencukupi daya tahan tubuhnya mudah terinfeksi,” katanya.

Anggraini menyebut vaksinasi menjadi salah satu upaya mencegah influenza A dan B, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Vaksinasi diharapkan membantu menekan risiko penyakit berat akibat influenza pada kelompok rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....