Menkes: Kemitraan Kesehatan Harus Berujung pada Dampak Nyata

  • 16 Sep 2026 16:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa kemitraan kesehatan harus diukur dari dampak nyata dan hasil konkret bagi masyarakat, bukan hanya komitmen di atas kertas.
  • Indikator keberhasilan kemitraan kesehatan mencakup peningkatan jangkauan vaksinasi, keselamatan ibu melahirkan, deteksi dini tuberkulosis, dan aksesibilitas layanan berkualitas untuk seluruh masyarakat Indonesia.
  • Menkes menekankan bahwa jarak antara kemitraan dan dampak adalah eksekusi nyata (delivery) yang menghasilkan perbaikan terukur dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan kemitraan pembangunan kesehatan harus diwujudkan melalui aksi nyata berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, kemitraan bermakna ketika mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia.

“The distance between partnership and impact is delivery, kemitraan berarti jika menghasilkan perbaikan nyata bagi kehidupan masyarakat. Anak mendapatkan vaksin, ibu melahirkan aman, TBC terdeteksi dini, dan layanan berkualitas tersedia bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu, 16 September 2026.

Budi mengatakan pemerintah menargetkan peningkatan angka harapan hidup dari 72 menjadi 76 tahun. Sementara harapan hidup sehat ditargetkan meningkat dari 60 menjadi 65 tahun.

Menurutnya, penguatan layanan kesehatan primer menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mencapai target harapan hidup. Upaya tersebut dilakukan melalui pemenuhan alat kesehatan serta revitalisasi Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

“Kami telah mendistribusikan sekitar 300 ribu antropometri kit ke Posyandu dan 10 ribu USG ke Puskesmas. Pemerintah juga memperkuat 10 ribu Puskesmas dengan X-ray untuk mendukung skrining TBC serta diagnosis molekuler,” ucap Menkes.

Di sisi pencegahan, Menkes Budi menjelaskan pemerintah memperkuat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program tersebut telah menjangkau sekitar 70 juta orang pada tahun pertama dan mencapai sekitar 88 juta orang hingga Agustus 2026.

Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 130 juta orang pada tahun ini. Hasil skrining menunjukkan masalah kesehatan gigi dan obesitas menjadi perhatian karena berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular.

“Jika ingin memperpanjang usia harapan hidup, cara termurah adalah menjaga masyarakat tetap sehat. Bukan menunggu mereka sakit, kemudian memberikan pengobatan,” ucap Menkes Budi.

Budi menekankan transformasi kesehatan membutuhkan kemitraan yang lebih terarah, transparan, dan berkelanjutan. Saat ini terdapat 108 mitra pembangunan yang telah bekerja sama dengan Kemenkes.

“Kepercayaan adalah fondasi kemitraan, kepercayaan harus diperoleh dan terus dijaga. Karena itu, kita harus terbuka mengenai prioritas, hasil, dampak, dan penggunaan pembiayaan,” kata Menkes Budi mengungkapkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....