Kemenkes Kirim 160 Tenaga Cadangan Kesehatan Tahap Dua ke Wilayah NTT

  • 08 Sep 2026 05:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan mengirimkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan ke Nusa Tenggara Timur sebagai respons darurat bencana gempa.
  • Pengiriman tahap kedua ini berfokus pada penguatan layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat yang terdampak gempa di empat kabupaten Flores.
  • Tim medis juga akan memantau potensi penyakit pascabencana dan memperkuat layanan kesehatan dasar di daerah terdampak.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberangkatkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) tahap dua ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengiriman personel difokuskan untuk memperkuat pemulihan trauma psikososial serta kesehatan mental warga terdampak gempa bumi.

Nakes disebar di empat wilayah meliputi Kabupaten Ngada Manggarai Manggarai Barat serta Manggarai Timur. Pelayanan medis dijalankan melalui unit puskesmas setempat dan dua fasilitas rumah sakit lapangan daerah.

Tim surveilans turut diterjunkan guna mengidentifikasi potensi penyakit menular pascabencana secara intensif di lapangan. Pelaksanaan pemantauan kesehatan berkala bertujuan mencegah munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah penyakit.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengonfirmasi pengerahan ratusan petugas medis darurat. Tujuannya kali ini fokus kepada psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak gempa di Flores.

“Pendekatannya berbeda karena kali ini fokus kepada psikososial dan kesehatan mental masyarakat terdampak gempa di Flores. Kami memberangkatkan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dan komunikasi sekaligus membantu pemulihan psikologis masyarakat terdampak bencana,” kata Sumarjaya dalam keterangan kepada RRI.co.id , Selasa, 8 September 2026.

Sumarjaya menggarisbawahi pentingnya pendampingan psikologis berkelanjutan guna memulihkan trauma mental warga penyintas guncangan gempa tektonik. Komunikasi edukatif diberikan langsung kepada kelompok rentan di area pengungsian secara bertahap.

“Untuk saat ini, fokusnya lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi dan komunikasi kepada masyarakat terdampak. Tim kesehatan juga membantu masyarakat memulihkan kondisi psikologis setelah menghadapi bencana gempa,” ujar Sumarjaya.

Sumarjaya menekankan bahwa identifikasi dini terhadap potensi sebaran penyakit menular menjadi prioritas penanganan bencana alam. Pemantauan ketat kondisi sanitasi lingkungan dinilai efektif menekan ancaman penyebaran wabah di pemukiman darurat.

“Tim kita surveillance juga kita turunkan untuk melihat, mengidentifikasi penyakit-penyakit apa yang terjadi di sana. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi potensi KLB dan wabah,” ucap Sumarjaya.

Dokter umum TCK dr. Shaldy Syifa Azzahri memaparkan kesiapan teknis peralatan medis sebelum bertugas. Keterangan kesiapan personel kesehatan disampaikan dalam acara pelepasan tim darurat di Jakarta pada Senin, 7 September 2026.

“Sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Dan pastinya sebagai seorang dokter umum, kita juga bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri sebelum kita membantu orang lain,” kata Shaldy.

Koordinasi lintas sektor terus dimaksimalkan demi menjamin ketersediaan logistik obat-obatan di lokasi bencana. Evaluasi penanganan darurat bakal dilakukan secara periodik bersama pemerintah daerah setempat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....