Mengenal Demodex, Tungau Mikroskopis yang Bisa Hidup di Kulit Wajah

  • 15 Agt 2026 14:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Demodex adalah tungau mikroskopis berkaki delapan yang hidup di folikel rambut manusia, khususnya di area wajah.
  • Keberadaan demodex umumnya tidak menimbulkan masalah kesehatan ketika populasinya tetap terkendali dan seimbang.
  • Demodex folliculorum merupakan salah satu dari dua jenis utama demodex yang paling umum ditemukan pada manusia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Demodex merupakan tungau mikroskopis yang dapat hidup di folikel rambut manusia, termasuk pada area wajah. Keberadaannya umumnya tidak menimbulkan masalah ketika populasinya tetap terkendali.

Melansir dari Halodoc, demodex merupakan organisme mikroskopis berkaki delapan yang terdiri dari dua jenis utama. Salah satu jenis yang umum ditemukan pada manusia adalah Demodex folliculorum.

Tungau ini paling banyak bersarang di area sekitar mata, tepatnya menyerang kelopak mata dan bulu mata manusia. Karena kebiasaannya itu, Demodex kerap dijuluki sebagai tungau bulu mata oleh para ahli kesehatan kulit.

Uniknya, Demodex folliculorum baru keluar dari pori-pori kulit pada malam hari saat manusia sedang tertidur. Setelah kawin di permukaan kulit, tungau betina akan kembali bersembunyi ke dalam folikel untuk bertelur.

Siklus hidup tungau ini terbilang singkat namun cukup produktif dalam berkembang biak di kulit manusia. Telur menetas dalam waktu tiga hingga empat hari, kemudian tumbuh dewasa hanya dalam tujuh hari.

Jika jumlahnya masih sedikit, Demodex justru membantu membersihkan sel-sel kulit mati tanpa menimbulkan gejala apa pun. Namun, populasi berlebihan dapat memicu peradangan berupa blefaritis pada kelopak mata maupun reaksi rosacea di kulit wajah.

Tak hanya di manusia, tungau serupa dari genus yang sama juga dapat menyerang hewan seperti anjing dan menyebabkan penyakit kulit serius. Melansir dari Veterinary Science and Medicine Journal, kasus demodekosis pada anjing lokal berumur empat bulan menyebabkan kerontokan bulu.

Pada kasus anjing tersebut, populasi Demodex yang tidak terkendali bahkan memicu anemia, peradangan kulit, hingga penurunan trombosit darah. Kondisi ini menegaskan bahwa tungau Demodex bisa berdampak serius apabila sistem kekebalan tubuh inangnya melemah.

Gejala infestasi Demodex berlebih pada manusia biasanya muncul mendadak, ditandai sensasi terbakar dan rasa gatal di kulit. Kulit yang terinfeksi juga biasanya terlihat kasar dan disertai kemerahan serta bercak menyerupai komedo putih.

Pengobatan hanya diperlukan jika populasi tungau sudah tidak terkendali dan menimbulkan gangguan kesehatan yang nyata. Dokter biasanya meresepkan krim, losion, atau sabun mengandung akarisida untuk membunuh tungau penyebab masalah kulit tersebut. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....