Perdami: Katarak Masih Jadi Penyebab Utama Kebutaan Indonesia
- 07 Agt 2026 23:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia, namun dapat disembuhkan sepenuhnya melalui operasi mata yang efektif.
- Operasi katarak tidak hanya mengembalikan penglihatan pasien tetapi juga meningkatkan produktivitas ekonomi dan mengurangi risiko kecelakaan dalam kehidupan sehari-hari.
- Penanganan katarak melalui operasi berkontribusi pada pengurangan angka kemiskinan secara tidak langsung dengan meningkatkan kemampuan kerja dan kualitas hidup pasien serta keluarganya.
RRI.CO.ID, Kabupaten Banyuwangi - Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) menyatakan katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia. Namun, kebutaan akibat katarak dapat disembuhkan melalui operasi sehingga mengembalikan penglihatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Operasi katarak mengembalikan penglihatan sekaligus meningkatkan produktivitas pasien dan keluarganya. Operasi juga mengurangi risiko kecelakaan serta membantu menekan angka kemiskinan secara tidak langsung,” kata Ketua Badan Advokasi, JKN, Koding dan Remunerasi PP Perdami, Dr. dr. Muhamad Rifqy Setyanto saat konferensi pers di Rumah Sakit Khusus Mata, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah, Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, jumlah penderita katarak yang belum menjalani operasi di Indonesia masih sangat besar. Kondisi tersebut menyebabkan angka operasi katarak nasional belum memenuhi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“WHO merekomendasikan minimal 3.000 operasi katarak per satu juta penduduk setiap tahun. Namun, hingga saat ini Indonesia baru mencapai sekitar 2.000 operasi per satu juta penduduk,” ucap Rifqy.
Rifqy mengatakan Noor Dubai Foundation kembali mendukung bakti sosial operasi katarak bersama PP Perdami melalui dua tahap pendanaan. Dukungan itu diberikan sepanjang tahun ini untuk memperluas layanan operasi katarak di sejumlah provinsi.
“Pada tahap pertama, sebanyak 500 operasi telah dilaksanakan sejak awal tahun hingga April di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Tengah. Selanjutnya, pada periode Juli hingga November, kembali dilaksanakan 500 operasi yang tersebar di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....