Kemenkes Ungkap Temuan E.coli pada Sampel Makanan MBG

  • 06 Agt 2026 09:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri E. coli pada beberapa sampel makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
  • Temuan bakteri E. coli bukan hanya pada semangka tetapi juga pada berbagai jenis makanan lainnya dalam program tersebut.
  • Kementerian Kesehatan telah menyampaikan masukan kepada Badan Gizi Nasional terkait permasalahan di Sistem Penyiapan dan Penyajian Gizi (SPPG) untuk pencegahan kejadian serupa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada beberapa sampel makanan. Temuan tersebut telah disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa.

“Ada beberapa makanan teridentifikasi mengandung bakteri E.coli, bukan hanya semangka. Kami sudah memberi masukan kepada BGN terkait permasalahan di SPPG,” kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Menurut Budi, tim Kementerian Kesehatan langsung turun ke lapangan begitu laporan dugaan keracunan diterima. Hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium telah menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan bagi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Ia menilai Kepala BGN Sudaryono menunjukkan respons yang cepat dan terbuka dalam menindaklanjuti setiap masukan. Bahkan, BGN turut mengundang para ahli untuk memberikan rekomendasi guna memperkuat sistem keamanan pangan di seluruh SPPG.

“Saya pribadi melihat sekarang Pak Sudaryono jauh sangat responsif, jauh sangat terbuka. Sehingga kalau dapat masukan itu cepat sekali merespons,” ujar Menkes Budi.

Budi juga menyampaikan bahwa BGN berkomitmen mempercepat pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di seluruh dapur MBG. Menurutnya, langkah pencegahan harus menjadi prioritas mengingat jumlah SPPG yang terus bertambah.

Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono menegaskan pihaknya memberikan batas waktu hingga 10 Agustus 2026 bagi dapur MBG yang belum mengantongi SLHS. Setelah tenggat tersebut berakhir, dapur yang tidak memenuhi persyaratan akan ditutup permanen.

“Kalau enggak tutup permanen. Jadi memang kita tidak mentolerir dapur-dapur yang secara sanitasi dan higienisnya itu kemudian tidak memenuhi standar,” kata Sudaryono.

Ia menjelaskan SLHS bukan sekadar persyaratan administrasi, melainkan syarat mutlak operasional dapur MBG. Karena itu, tidak ada ruang kompromi bagi SPPG yang gagal memenuhi standar higiene dan sanitasi.

Selain itu, setiap laporan dugaan keracunan akan langsung ditindaklanjuti dengan penghentian sementara operasional dapur terkait. Sampel makanan diperiksa di laboratorium oleh Dinas Kesehatan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan, disertai investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab kejadian.

“Terkait sanksi, setiap kejadian itu satu dapurnya disuspensi. Kemudian makanannya dicek di lab oleh Dinas Kesehatan di bawah pengawasan dari Kementerian Kesehatan,” ucap Sudaryono.

Sudaryono menegaskan BGN menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap setiap insiden keracunan pangan Program Makan Bergizi Gratis. Langkah itu demi melindungi keselamatan, kesehatan, dan keamanan seluruh anak penerima manfaat.

“Ini menjadi suatu hal yang fatal. Ini nyawa seseorang, kesehatan seseorang, keamanan seorang anak yang harus kita jamin. Ini nol toleran sama keracunan ini,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kasus dugaan keracunan dalam MBG di Distrik Depapre, Jayapura, dan SMK Negeri 6 Semarang menemukan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sejumlah sampel makanan. Temuan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....