Kemenkes Gandeng Takeda Bangun Ekosistem Plasma Pertama di Asia Tenggara
- 14 Jul 2026 15:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan Takeda untuk membangun ekosistem produk obat derivat plasma pertama di Asia Tenggara dengan investasi 30 juta dolar AS.
- Bank plasma direncanakan mulai beroperasi di Indonesia pada 2027 sebagai tahap awal pengembangan ekosistem plasma nasional untuk memperkuat kemandirian industri kesehatan.
- Plasma Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan global Takeda dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, dengan kajian pembangunan pabrik terapi turunan plasma berteknologi tinggi di Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng perusahaan biofarmasi Jepang, Takeda membangun ekosistem produk obat derivat plasma pertama di Asia Tenggara. Kerja sama ditandai pemberian izin fraksionasi plasma untuk memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut kemitraan strategis dengan Takeda memperkuat kemandirian layanan kesehatan nasional melalui pengembangan terapi berbasis plasma. Kolaborasi itu juga menjamin akses masyarakat terhadap terapi esensial secara berkelanjutan.
“Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kemitraan dengan Takeda, Indonesia akan mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan,” kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.
Menkes mengungkapkan Takeda menginvestasikan 30 juta dolar AS membangun jaringan bank plasma sebagai tahap awal pengembangan ekosistem plasma nasional. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi di Indonesia pada 2027.
“Plasma Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan global Takeda dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Kami juga mengkaji pembangunan pabrik terapi turunan plasma berteknologi tinggi di Indonesia,” ucap Menkes.
Lebih lanjut, Menkes menyebut pembangunan ekosistem plasma dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap PODP. Indonesia dan mayoritas negara Asia Tenggara masih menghadapi tantangan akses terapi plasma akibat rendahnya diagnosis dan kesadaran masyarakat.
“Kemitraan ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat pengembangan ekosistem plasma nasional,” kata Menkes Budi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan menilai kemitraan dengan Takeda memperkuat industri kesehatan nasional melalui investasi dan transfer teknologi. Kolaborasi itu juga membuka peluang kerja baru.
“Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan. Tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju,” kata Rosan.
Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad menegaskan dukungan perusahaan bagi pengembangan layanan kesehatan Indonesia berbasis sains plasma. Komitmen itu mencakup penguatan kapasitas industri kesehatan nasional.
“Kami berkomitmen memanfaatkan keahlian global Takeda dalam sains plasma untuk mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia. Sekaligus membuka lapangan kerja baru berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal,” kata Ramy.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....