BPOM Dengar Keluhan Industri Farmasi, Fokus Jaga Stabilitas Harga Obat

  • 10 Jun 2026 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPOM telah berdialog dengan pelaku industri farmasi sejak empat bulan lalu untuk mengidentifikasi penyebab kenaikan biaya produksi obat
  • Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga bahan baku berbasis petrokimia menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga obat
  • BPOM memberikan diskresi, percepatan perizinan, dan kemudahan perubahan bahan baku serta kemasan guna menekan beban industri

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan pihaknya telah mengumpulkan pelaku industri farmasi sejak empat bulan lalu. Langkah tersebut dilakukan untuk mendengarkan secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi industri obat.

Menurut Taruna, masalah paling penting yang disampaikan pelaku industri berkaitan dengan rantai pasok bahan baku. Produk dalam rantai pasok tersebut pada umumnya berasal dari sektor petrokimia yang bersumber dari residu minyak.

“Masalah yang terpenting adalah supply chain. Produk-produk supply chain itu pada umumnya asal-muasalnya berasal dari petrokimia, petrokimia itu adalah bahan residu dari minyak,” ujarnya usai mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak dan hambatan distribusi berdampak pada ketersediaan bahan baku. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha menaikkan harga karena bahan baku tidak sampai sesuai kebutuhan.

Taruna mengatakan produsen tidak mungkin terus memproduksi barang apabila mengalami kerugian dalam usahanya. Karena itu, BPOM menelusuri berbagai komponen biaya yang dapat dibantu agar harga tetap stabil.

“Karena kan tidak ada sesuatu pun produsen yang mau memproduksi sesuatu kalau dia rugi. Kita harus masuk akal, oleh karena itu, kita telusuri biaya-biaya apa saja yang bisa kita bantu,” ucapnya.

Menurutnya, harga bahan baku aktif maupun bahan kemasan tidak dapat dikendalikan pemerintah. Namun, BPOM dapat membantu melalui kebijakan yang mempermudah perubahan sumber bahan baku tanpa prosedur berbiaya besar.

Taruna menambahkan BPOM juga memberikan diskresi, percepatan perizinan, serta kemudahan perubahan kemasan produk. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi beban industri sehingga harga produk tetap dapat dikendalikan.

“Itu caranya kita bantu, kita lakukan diskresi di Indonesia untuk membantu industri, mungkin harga bahannya tetap mahal kemasannya. Tapi kan dari pihak ini dia bisa dapat subsidi dari pemerintah, dari Badan POM, sehingga harganya dia bisa kendalikan,” kata Taruna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....