Sekolah Lansia, Lebih Dari Sekadar Pengisi Waktu di Usia Senja

  • 10 Jun 2026 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Karena aging population di Indonesia hampir 12 persen, yang terpenting adalah membuat para lansia tersebut tetap memiliki aktivitas yang produktif. Salah satunya adalah melalui program Sekolah Lansia.

Hal ini disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Dr. Wihaji, pada perayaan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30. Yakni bertema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh” di Ballroom Kemendukbangga/BKKBN pada Selasa, 9 Juni 2026.

Dalam bonus demografi kedua, lansia berperan sebagai sumber daya yang tetap produktif melalui konsep silver economy. Yaitu aktivitas ekonomi yang memanfaatkan potensi dan kebutuhan penduduk lanjut usia.

Lansia dapat terus bekerja, menjadi konsultan atau mentor, serta menjalankan usaha berdasarkan pengalaman dan jaringan yang dimiliki. Selain itu, lansia juga dapat berkontribusi sebagai investor melalui tabungan dan aset yang telah terkumpul selama masa produktif.

Silver economy juga mendorong pertumbuhan berbagai sektor, seperti layanan kesehatan, teknologi ramah lansia, pariwisata, dan jasa keuangan. Di samping kontribusi ekonomi langsung, lansia berperan dalam mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai sosial kepada generasi muda.

Dengan dukungan kesehatan, pendidikan, dan kebijakan yang inklusif. Lansia dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan membantu mewujudkan bonus demografi kedua yang berkelanjutan.

Dengan harapan agar lansia dapat bermanfaat bagi diri sendiri, menemukan kebahagiaan. Serta menjadi lansia tangguh, berbagai aktivitas yang produktif turut diajarkan di Sekolah Lansia.

Seperti tujuh dimensi lansia tangguh, pencegahan risiko jatuh, manajemen kegawatdaruratan, pendampingan pasca-stroke, kewirausahaan lansia, serta motivasi pemberdayaan lansia. Manfaat ragam kegiatan tersebut turut dirasakan oleh sejumlah lansia yang diwisuda di perayaan HLUN ke-30 kali ini.

“Saya bangga sekali mengikuti kegiatan di Sekolah Lansia, saya mendapatkan pengetahuan kesehatan. Bertemu dengan teman-teman, pikiran kita jadi nggak beku, menjadi kegembiraan bagi saya,” kata Ema Amina (64), wisudawan Sekolah Lansia Wijaya Kusuma Bogor.

Hal yang sama pun dirasakan oleh Nyimas Aliah (65), wisudawan Sekolah Lansia Ratu Sinuhun, yang menyatakan bahwa para peserta di Sekolah Lansia merasa lebih senang bertemu dengan sesama komunitas. Serta mendapatkan program-program yang ramah lansia.

Menteri Wihaji pun berharap dengan kehadiran negara melalui program Sekolah Lansia, para lansia tidak lagi merasa kesepian. Bahkan dapat berperan dalam bonus demografi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....