Teringat Memori Memalukan sebelum Tidur, Ini Penjelasan Fenomenanya
- 26 Mei 2026 15:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Memori memalukan sering muncul sebelum tidur karena otak lebih aktif memproses pikiran saat suasana tenang.
- Psikologi menyebut pola pikiran berulang ini sebagai “perseverative thinking” yang berkaitan dengan stres dan kecemasan.
- * Bias negatif membuat otak lebih mudah mengingat pengalaman buruk dibanding pengalaman menyenangkan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hal memalukan sering muncul kembali menjelang tidur, meski sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Saat suasana mulai tenang, otak lebih mudah memutar ulang pengalaman yang belum sepenuhnya diproses.
Tubuh mungkin sudah lelah, tetapi pikiran tetap aktif memikirkan kesalahan dan kecemasan lama. Menurut psikologi, kondisi ini berkaitan dengan pola pikiran berulang dan kecenderungan otak lebih fokus pada pengalaman negatif.
Melansir dari Autism Awareness Centre, pola pikiran berulang yang sulit dihentikan sebagai “perseverative thinking” saat menghadapi stres. Pola ini mencakup penyesalan masa lalu, kekhawatiran masa depan, dan evaluasi diri yang terus berulang.
Pikiran yang terus-menerus muncul bisa terjadi karena seseorang mungkin sedang berusaha mengatasi stres, memproses informasi, mengalihkan perhatian. Dia tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal tertentu, atau tidak bisa mengendalikan perilakunya.
Untuk memahami lebih lanjut, berikut 5 alasan kenapa memori memalukan seringkali muncul sebelum tidur. Simak alasan berikut, mengutip dari berbagai sumber:
1. Siang hari terlalu sibuk sampai tidak sempat memproses pikiran
Kesibukan sepanjang hari membuat seseorang terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Fokus yang padat sering membuat pikiran dan emosi tidak sempat diproses dengan tenang.
Saat malam tiba, berbagai pikiran tertahan mulai muncul ketika suasana berubah lebih sunyi. Akibatnya, otak tetap aktif meski tubuh sebenarnya sudah lelah dan ingin beristirahat.
2. Otak manusia memiliki bias negatif
Otak manusia cenderung lebih mengingat pengalaman buruk dibandingkan pengalaman menyenangkan dalam hidup. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai bias negatif yang berkembang sejak masa awal manusia.
Pikiran negatif sebelum tidur juga dipengaruhi kebiasaan cemas saat mencoba beristirahat setiap malam. Akibatnya, tubuh terbiasa tetap terjaga dan sulit merasa tenang menjelang waktu tidur.
3. Tubuh lelah, tapi mental masih tegang
Kelelahan fisik tidak selalu membuat pikiran ikut tenang dan mudah beristirahat. Stres dan tekanan harian sering membuat otak tetap aktif meski tubuh sudah mengantuk.
Kondisi tersebut membuat seseorang sulit tidur nyaman dan sulit merasa benar-benar rileks. Akibatnya, kualitas istirahat menurun dan tubuh lebih mudah merasa lelah keesokan harinya.
4. The Rumination-Prone: Mudah terjebak lingkaran pikiran
Sebagian orang cenderung terus mengulang pikiran dan kenangan secara berlebihan tanpa tujuan jelas. Kondisi ini membuat otak sulit berhenti memikirkan hal yang sebenarnya tidak lagi bermanfaat.
5. The Socially Sensitive: Mudah cemas dengan interaksi sosial
Orang dengan kepribadian ini sangat memikirkan penilaian dan respons sosial dari orang lain. Saat malam tiba, mereka sering mengulang percakapan dan mempertanyakan sikapnya sepanjang hari.
Meski terasa sepele, rasa malu yang terus muncul bisa memengaruhi kualitas tidur dan kondisi mental seseorang. Karena itu, penting memberi waktu bagi pikiran untuk beristirahat dan memproses emosi dengan lebih sehat. (Agnes Claudia Ohoira)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....