IDAI Minta Masyarakat Waspadai Malaria Monyet di Aceh

  • 14 Mei 2026 07:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat mewaspadai malaria monyet yang kasusnya meningkat di Malaysia dan Aceh Jaya.
  • Anggota IDAI Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan parasit Plasmodium knowlesi berkembang biak sangat cepat dalam tubuh manusia.

RRI.CO.ID, Jakarta -Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat mewaspadai malaria monyet yang kasusnya meningkat di Malaysia dan Aceh Jaya. Pasalnya, penyakit zoonosis tersebut dinilai berbahaya karena parasit Plasmodium knowlesi mampu berkembang biak sangat cepat pada manus.

Anggota IDAI Inke Nadia Diniyanti Lubis mengatakan parasit Plasmodium knowlesi berkembang biak sangat cepat dalam tubuh manusia. Ia mengingatkan malaria monyet berisiko memicu gejala berat hingga komplikasi fatal apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan.

“Malaria dari monyet ini bisa menyebabkan gejala yang sangat berat karena siklus hidup parasitnya jauh lebih pendek. Sehingga sangat cepat bereplikasi di dalam tubuh manusia,” kata Inke Nadia Diniyanti dalam keterangan pers ditulis, Kamis, 14 Mei 2026.

Menurutnya, penyakit itu umumnya menyerang masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar hutan dan kawasan perbatasan hutan. Inke menjelaskan penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus setelah sebelumnya parasit menginfeksi monyet.

“Penyakit ini umumnya menyerang masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan hutan. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles setelah parasit sebelumnya menginfeksi monyet,” ujarnya menambahkan.

IDAI menyebut peningkatan kasus Malaria Knowlesi berkaitan erat dengan deforestasi dan perubahan fungsi lahan di sejumlah wilayah hutan. Kondisi itu memperbesar interaksi manusia dengan nyamuk pembawa penyakit serta habitat monyet di kawasan terdampak secara signifikan kini.

“Peningkatan kasus malaria monyet berkaitan erat dengan deforestasi dan perubahan fungsi lahan. Perubahan itu memperbesar interaksi manusia dengan nyamuk pembawa penyakit serta habitat monyet,” ucap Inke menjelaskan.

Lebih lanjut, Inke menyampaikan gejala infeksi meliputi demam harian, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual dan muntah. Jika terlambat ditangani, pasien berisiko mengalami gagal ginjal, sesak napas, hingga kematian.

Saat ini Malaysia melaporkan 357 kasus Malaria Knowlesi dengan satu kematian di Sabah hingga pekan epidemiologi ke-16. Sementara di Indonesia, sebanyak 30 kasus ditemukan di Kabupaten Aceh Jaya hingga April 2026.

“Langkah pencegahan terbaik adalah menggunakan kelambu saat tidur, memakai losion antinyamuk, dan menggunakan pakaian lengan panjang. Terutama pada jam aktif nyamuk saat subuh, magrib, dan malam hari,” kata Inke menutup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....