Waspada Hantavirus: Ini Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya

  • 09 Mei 2026 13:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hantavirus ditularkan dari tikus melalui urine, feses, air liur, atau partikel udara terkontaminasi.
  • Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan, dan dapat berkembang menjadi serius
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, serta menerapkan pola hidup bersih

RRI.CO.ID, Jakarta — Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026 memicu kekhawatiran publik. Dalam peristiwa tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah penumpang lainnya mengalami kondisi sakit dan kritis.

Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap hantavirus yang dapat berdampak serius pada kesehatan manusia. Virus ini diketahui dapat menyerang paru-paru maupun ginjal dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus, kepada manusia melalui berbagai jalur paparan. Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, termasuk dari partikel udara yang terkontaminasi.

Selain itu, seseorang juga dapat terpapar melalui makanan yang tidak higienis atau kebiasaan menyentuh wajah tanpa mencuci tangan setelah kontak dengan benda terkontaminasi. Meski demikian, penularan antarmanusia sangat jarang terjadi sehingga faktor lingkungan menjadi penyebab utama.

Untuk mengenali risiko sejak dini, masyarakat perlu memahami gejala, cara penularan, serta langkah pencegahan infeksi hantavirus. Pemahaman ini penting agar paparan virus dapat segera diantisipasi dengan tepat.

Gejala awal infeksi hantavirus umumnya muncul dalam waktu satu hingga delapan minggu setelah paparan. Melansir laman Alodokter, berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

- Demam disertai rasa tidak enak badan dan kelelahan berlebihan.

- Sakit kepala, nyeri otot, serta gangguan pencernaan seperti mual atau muntah.

- Nyeri perut, diare, dan penurunan kondisi fisik secara umum.

Jika kondisi memburuk, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius dan mengganggu fungsi organ vital. Kondisi ini dapat ditandai dengan batuk dan sesak napas akibat gangguan pada paru-paru.

Selain itu, penderita juga dapat mengalami nyeri dada disertai peningkatan detak jantung. Pada tahap lanjut, dapat muncul gangguan ginjal, tekanan darah rendah, hingga perdarahan.

Di samping mengenali gejala, penting juga mengetahui bagaimana virus ini dapat menular di lingkungan sekitar. Penularan hantavirus dapat terjadi melalui berbagai kondisi yang berkaitan dengan paparan lingkungan terkontaminasi, di antaranya:

- Kontak langsung dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

- Menghirup udara yang mengandung partikel virus dari lingkungan terkontaminasi.

- Mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terpapar virus.

- Mengalami luka akibat gigitan tikus atau tidak menjaga kebersihan tangan.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat perlu menghindari berbagai faktor risiko yang dapat memicu penularan hantavirus di lingkungan sekitar. Upaya ini penting dilakukan mengingat belum adanya vaksin khusus untuk mencegah infeksi virus tersebut, di antaranya:

- Menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci menggunakan sabun setelah beraktivitas.

- Menghindari kontak langsung dengan tikus maupun cairan tubuhnya seperti urine, feses, dan air liur.

- Menyimpan makanan dan minuman di tempat tertutup serta memastikan kebersihannya.

- Membersihkan rumah dan area sekitar secara berkala, terutama lokasi yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Selain itu, masyarakat juga disarankan menutup akses masuk tikus ke dalam rumah dengan memperbaiki celah atau lubang yang ada. Penggunaan perangkap tikus dan disinfektan juga dapat menjadi langkah tambahan untuk mengurangi risiko paparan.

Dengan meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, risiko penularan hantavirus dapat ditekan. Upaya pencegahan yang konsisten menjadi kunci untuk melindungi diri dan lingkungan dari potensi infeksi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....