Perempuan Rentan Depresi, Psikolog Soroti Faktor Genetika dan Beban Sosial
- 30 Apr 2026 14:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi akibat kombinasi faktor biologis, genetika, serta beban peran ganda dalam kehidupan sehari-hari.
- Psikolog Desi Nur Utami menyoroti rendahnya edukasi kesehatan mental membuat banyak perempuan tidak mampu mengenali kelelahan emosional sejak dini.
- Penanganan dapat dimulai dari dukungan sosial hingga bantuan profesional, sementara pemerintah melalui layanan puskesmas dan edukasi masyarakat terus mendorong kesadaran kesehatan mental perempuan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena kesehatan mental menjadi perhatian serius terutama bagi kaum perempuan yang seringkali memikul beban tanggung jawab sangat besar. Data menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan laki-laki karena berbagai faktor kompleks yang menyertainya.
Psikolog Universitas Hang Tuah Surabaya, Desi Nur Utami, menjelaskan kondisi ini bisa dipengaruhi oleh kombinasi genetika. "Selain faktor biologis, kurangnya edukasi kesehatan membuat banyak individu tidak mampu mengenali perubahan kondisi psikis yang sedang terjadi," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis, 30 April 2026.
Menurutnya, penyebab utama tekanan mental pada perempuan adalah tuntutan untuk menjalankan peran ganda dalam kehidupan sehari-hari secara bersamaan. Dimana, lanjutnya, perempuan harus berperan sebagai anak, istri, ibu, sekaligus pekerja yang profesional dalam lingkungan sosial maupun kerja mereka.
Banyaknya tanggung jawab tersebut seringkali membuat mereka mengabaikan kondisi kesehatan mental demi memenuhi kebutuhan orang lain di sekitarnya. Hal ini mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk mengenali sinyal kelelahan emosional yang seharusnya segera ditangani agar tidak menjadi berat.
"Salah satunya edukasi tentang kesehatan yang akhirnya membuat kita tidak mengenali betul sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita. Baik itu dari segi fisik maupun dari segi mental," katanya.
Ia mengatakan, langkah awal yang paling efektif untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan bercerita kepada orang terdekat. Dukungan sosial dari keluarga atau teman dapat membantu seseorang mendapatkan perspektif yang lebih objektif mengenai masalah yang dihadapi.
Jika kelelahan fisik dan emosional sudah tidak dapat ditanggung sendiri,menurutnya dapat mencari bantuan profesional menjadi langkah yang bijak. Konsultasi dengan tenaga ahli seperti psikolog kini semakin mudah diakses melalui berbagai layanan platform digital secara daring.
"Perempuan terkadang kurang menjaga Kesehatannya juga misalnya, melakukan istirahat, itu engga apa-apa. Kalau dirasa masalahnya itu sudah semacam yang ada di pikirnya jadi konsultasi kepada yang profesional." ujarnya.
Ia mengatakan, media sosial juga menjadi faktor pemicu depresi karena seringkali menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi para penggunanya. Pengguna cenderung membandingkan kehidupan mereka dengan unggahan orang lain yang sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat sempurna.
Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk menyaring informasi di media sosial dan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolak ukur. "Kita bisa refleksikan diri sebelum istirahat mungkin hal-hal baik sudah jelas, rezeki-rezeki yang ternyata tidak kita sangka sudah kita dapatkan," ucapnya.
Menjaga kesehatan mental memerlukan kesadaran penuh untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang menenangkan seperti mendengarkan musik atau berolahraga. Ia menekankan pentingnya bagi perempuan untuk tetap memprioritaskan diri sendiri di tengah kesibukan menjalankan berbagai peran.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten mengajak kaum perempuan memanfaatkan layanan kesehatan mental di 39 puskesmas. Hal tersebut guna meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan jiwa.
"Masih banyak perempuan yang lebih memprioritaskan keluarga dan lingkungan, sehingga kesehatan mental diri sendiri sering kali terabaikan. Kami siapkan layanan di puskesmas," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Dini Anggraeni.
Ia mengatakan seluruh puskesmas di Kota Tangerang kini telah menyediakan layanan konsultasi kesehatan mental dengan tenaga terlatih. Ia juga menambahkan Pemkot Tangerang membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) yang bertugas turun langsung ke masyarakat guna memberikan edukasi. (Sarah Maulida)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....