IDAI: Narasi Positif Kunci Hadapi Kelompok Antivaksin

  • 24 Apr 2026 09:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai penyebaran informasi positif menjadi kunci menghadapi kelompok antivaksin serta meningkatkan penerimaan imunisasi masyarakat.
  • Ketua Satgas Imunisasi IDAI Hartono Gunardi menyatakan persepsi masyarakat terhadap tingkat keparahan penyakit sangat memengaruhi keputusan menerima vaksin
  • Kepala Desk Humaniora Harian Kompas Evy Rachmawati mengatakan jurnalis perlu menyampaikan informasi efisien dan relevan dengan pola konsumsi audiens saat ini

RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai penyebaran informasi positif menjadi kunci menghadapi kelompok antivaksin serta meningkatkan penerimaan imunisasi masyarakat. Langkah ini dinilai penting untuk membangun persepsi publik tentang manfaat vaksin dalam mencegah penyakit dan menekan risiko kematian.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Hartono Gunardi menyatakan persepsi masyarakat terhadap tingkat keparahan penyakit sangat memengaruhi keputusan menerima vaksin. Ia menegaskan pemahaman risiko penyakit penting ditingkatkan agar masyarakat tidak ragu dan lebih percaya manfaat imunisasi bagi kesehatan.

“Karena penerimaan vaksin oleh seseorang itu dipengaruhi oleh persepsi terhadap beratnya penyakit itu. Tapi kalau kita sampaikan bahwa penyakit ini bisa mengakibatkan komplikasi dan kematian, mereka akan berpikir kembali,” kata Hartono Gunardi dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.

Ia menjelaskan dalam konsep keraguan vaksin terdapat tiga kelompok masyarakat yakni menerima, menolak, serta ragu-ragu yang masih bisa dipengaruhi. Kelompok ragu dinilai paling rentan terhadap pengaruh informasi keliru sehingga membutuhkan edukasi tepat agar beralih mendukung imunisasi.

“Di antaranya ini yang ragu. Sebagian menolak, sebagian menerima tapi menunda. Ini yang bisa dipengaruhi oleh kelompok antivax,” ujarnya.

Hartono mengingatkan anak tanpa imunisasi atau zero dose sangat rentan tertular penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Ia menekankan kondisi tersebut berisiko tinggi terutama di lingkungan dengan cakupan vaksinasi rendah sehingga penularan penyakit mudah terjadi.

“Zero dose children adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali. Bahayanya seperti bermain api, apalagi kita hidup berdekatan dengan Kejadian Luar Biasa,” ucap Hartono.

Menurutnya, risiko penularan akan semakin tinggi jika anak-anak tanpa imunisasi berada di lingkungan dengan cakupan vaksinasi rendah. Karena itu, ia menekankan pentingnya peran media massa dan pemengaruh dalam menyampaikan edukasi yang tepat kepada publik.

“Risiko penularan semakin tinggi jika anak tanpa imunisasi berada di lingkungan dengan cakupan vaksinasi rendah. Karena itu, peran media massa dan pemengaruh penting menyampaikan edukasi tepat agar masyarakat memahami pentingnya imunisasi,” kata Hartono menutup.

Sementara, Kepala Desk Humaniora Harian Kompas Evy Rachmawati mengatakan jurnalis perlu menyampaikan informasi efisien dan relevan dengan pola konsumsi audiens saat ini. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan format peliputan agar pesan tersampaikan efektif di tengah perhatian publik yang semakin terbatas.

“Sebagai jurnalis, kita harus menyampaikan berita seefisien mungkin dan menyesuaikan dengan audiens yang perhatiannya semakin terbatas. Narasi positif seperti testimoni orang tua tentang tumbuh kembang anak setelah divaksin bisa lebih menggugah,” kata Evy Rachmawati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....