Pekan ASI Sedunia 2026, Dukungan Menyeluruh Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif
- 03 Agt 2026 17:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peringatan Pekan ASI Sedunia 2026 menjadi momentum memperkuat dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif guna meningkatkan kesehatan bayi dan mencegah stunting.
- Meski cakupan ASI eksklusif di Indonesia meningkat menjadi sekitar 66 persen, pemerataan layanan edukasi dan pendampingan menyusui masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
- IDAI menekankan keberhasilan menyusui memerlukan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, media, dan lingkungan agar setiap bayi memperoleh haknya mendapatkan ASI.
RRI.CO.ID, Jakarta - Dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2026 yang berlangsung pada 1–7 Agustus, pemerintah terus mendorong pemberian ASI eksklusif. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan kesehatan bayi, mendukung tumbuh kembang optimal, sekaligus mencegah stunting sejak awal kehidupan.
Berdasarkan data WHO dan UNICEF, cakupan ASI eksklusif di Indonesia meningkat menjadi sekitar 66 persen dibandingkan tahun 2017 sekitar 50 persen. Meski demikian, capaian tersebut belum merata karena sejumlah daerah masih mencatatkan angka pemberian ASI eksklusif relatif rendah.
Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, Sp.A, Subsp.Neo(K), menyebut Papua mencatatkan cakupan sekitar 44 persen. Gorontalo berada sekitar 50 persen, sementara Kepulauan Riau juga masih menunjukkan capaian pemberian ASI eksklusif belum optimal.
"Indonesia sudah agak meningkat (cakupan ASI eklusif) sekitar 66 persen. Sehingga dukungan kepada ibu menyusui harus terus diperkuat," ujar Naomi, saat diwawancara Pro 3 RRI, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurutnya, keberhasilan menyusui tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada ibu karena membutuhkan dukungan berbagai pihak sejak masa kehamilan. Edukasi, pendampingan setelah persalinan, serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Naomi menjelaskan dua minggu pertama setelah persalinan merupakan periode penuh tantangan bagi ibu menyusui. Pendampingan mengenai pelekatan, posisi menyusui, hingga pemahaman bahwa produksi ASI awal merupakan proses fisiologis perlu diberikan.
"Tidak semua kegagalan menyusui bisa dilimpahkan kepada ibu karena mereka membutuhkan support system. Edukasi sejak kehamilan hingga pendampingan setelah melahirkan sangat menentukan keberhasilan menyusui," katanya.
Selain itu, tantangan juga muncul ketika ibu kembali bekerja serta masih masifnya promosi susu formula. Menurut Naomi, tempat kerja perlu menyediakan ruang laktasi, waktu memerah ASI, dan fasilitas penyimpanan agar ibu tetap dapat memberikan ASI eksklusif.
Ia menambahkan bayi yang tidak memperoleh ASI sesuai anjuran memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran pernapasan, diare, hingga obesitas saat remaja. Sementara bagi ibu, menyusui turut menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.
"ASI bukan hanya nutrisi, tetapi juga mengandung zat antiinfeksi dan hormon pertumbuhan. Tidak ada susu formula yang memiliki kandungan sebaik ASI untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang optimal anak," ucapnya.
Untuk meningkatkan keberhasilan menyusui, IDAI terus memperkuat edukasi melalui penyusunan modul bagi dokter dan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Organisasi tersebut juga mendorong media berperan aktif mempromosikan pentingnya ASI dibandingkan promosi susu formula.
Naomi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai mitos mengenai menyusui yang masih beredar. Menurutnya, ukuran payudara tidak menentukan produksi ASI karena kemampuan menyusui dipengaruhi banyak faktor selain jaringan lemak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....