Kasus Campak Melonjak, IDAI: Satu Orang Bisa Menulari hingga 18 Anak
- 23 Apr 2026 15:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa Indonesia tengah menghadapi lonjakan serius kasus Campak dalam tiga tahun terakhir.
- Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi menyebut menyebut 58 KLB campak terjadi di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi
- Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyoroti masih kuatnya pengaruh informasi tidak valid terkait vaksin di tengah masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa Indonesia tengah menghadapi lonjakan serius kasus Campak dalam tiga tahun terakhir. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan Indonesia masuk 10 besar dunia 2024, naik enam besar 2025, dan peringkat kedua 2026
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi menyebut menyebut 58 KLB campak terjadi di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi. Bahkan, pada minggu pertama 2026 tercatat sekitar 2.932 kasus suspek campak, menjadi puncak awal lonjakan tahun ini.
“Tingginya penularan menjadi faktor utama sulitnya pengendalian penyakit ini. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya,” kata Hartono Gunardi saat memberikan sambutan dalam Acara Pekan Imunisasi Nasional 2026 di kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan, tantangan pengendalian campak tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Sejumlah negara yang sebelumnya dinyatakan bebas campak kini kembali melaporkan kasus baru.
“Campak harus jadi peringatan serius, semua pihak memperkuat pencegahan melalui imunisasi. Tingginya daya tular dapat memicu lonjakan kasus dalam waktu singkat, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan oleh semua,” ucap Hartono.
Sementara, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyoroti masih kuatnya pengaruh informasi tidak valid terkait vaksin di tengah masyarakat. Ia mengaku kerap menemui pasien yang meragukan vaksinasi dengan alasan yang tidak berbasis bukti.
“Seringkali saya mendapatkan pasien yang datang membawa informasi dari sumber yang tidak jelas. Misalnya merasa sudah punya imunitas sejak lahir sehingga tidak perlu divaksin,” kata Dante Saksono Harbuwono
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....