Waspada Cuaca Panas Ekstrem, Orang Tua Diminta Cegah Dehidrasi dan Heatstroke Anak
- 16 Apr 2026 16:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anak membutuhkan asupan cairan sekitar 100 hingga 150 cc per kilogram berat badan setiap hari untuk mencegah dehidrasi saat cuaca panas ekstrem
- Orang tua harus melindungi anak dari paparan sinar matahari langsung serta memastikan asupan gizi seimbang guna menjaga daya tahan tubuh
- Anak yang tampak lemas, tidak aktif, dan kehilangan keceriaan menjadi tanda peringatan penting sehingga perlu segera mendapatkan penanganan medis
RRI.CO.ID, Jakarta - Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad mengimbau orang tua mencegah dehidrasi dan heatstroke pada anak saat cuaca panas ekstrem. Ia menekankan anak harus mendapatkan asupan cairan cukup serta perlindungan dari paparan sinar matahari langsung.
Ia menjelaskan kebutuhan cairan anak berkisar 100 hingga 150 cc per kilogram berat badan setiap hari. Kebutuhan tersebut dapat meningkat tergantung jumlah keringat dan frekuensi buang air kecil pada anak.
“Pada keadaan cuaca begini memang kita harus sering minum harus cukup minumnya itu, ya kurang lebih 100 cc per kilo. Kalau anak-anak itu kurang lebih dihitung ya, sekitar 100-150 cc per kilogram berat badan ya gitu, kalau 10 kilo ya 1 liter,” ujar Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira kepada RRI PRO3 di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Menurutnya, anak harus dijauhkan dari paparan panas langsung dan diberikan perlindungan seperti topi atau payung saat berada di luar ruangan. Selain itu, orang tua perlu memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh.
Cissy juga mengingatkan tanda awal yang perlu diwaspadai seperti lingkungan banyak nyamuk, udara kering, serta peningkatan polusi udara. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko penularan penyakit melalui udara.
Ia menegaskan orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika anak terlihat lemas dan tidak bersemangat seperti biasanya. Anak yang tidak aktif, tampak lesu, atau kehilangan keceriaan menjadi tanda peringatan penting yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau anak sudah kelihatan, aduh pengen tidur, kemudian anak itu kelihatannya sudah tidak gembira. Nah itu sudah warning (peringatan) itu,” ucapnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal. Kemarau akan berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi variabilitas iklim alami. Serta adanya potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua 2026.
“Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau. Dan jumlah ini diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni,” ujar Faisal.
Di sisi lain, lonjakan titik panas juga mulai terlihat. Data pemantauan satelit menunjukkan terdapat 702 hotspot sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026.
Data tersebut meningkat 82,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan tren ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama dalam aktivitas pembukaan lahan. Tujuannya untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kering yang kian ekstrem,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....