Wamenkes: Kasus Infeksi Dominasi Transplantasi Hati di Indonesia

  • 10 Apr 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan mengungkapkan sebagian besar kasus transplantasi hati di Indonesia dipicu infeksi hepatitis B dan C

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan mengungkapkan sebagian besar kasus transplantasi hati di Indonesia dipicu infeksi hepatitis B dan C. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono usai meninjau pengembangan layanan transplantasi hati di RSUP Fatmawati Jakarta.

“Transplantasi hepar di negara kita kebanyakan disebabkan infeksi. Khususnya, hepatitis C dan hepatitis B yang merusak organ hati,” kata Dante Saksono Harbuwono saat konferensi pers di Jakarta, Jumat, 10 April 2026.

Lebih lanjut, Dante menegaskan faktor risiko yang memicu infeksi hepatitis perlu dicegah agar kasus kerusakan hati tidak terus meningkat. Menurut Dante, perilaku seksual berisiko dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan hati pada masyarakat.



“Faktor-faktor risiko yang menyebabkan infeksi hepatitis itu harus dicegah agar tidak berujung pada kerusakan hati. Kelainan metabolik juga bisa menyebabkan kerusakan liver, meskipun kasus akibat alkohol di tempat kita relatif tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya upaya pencegahan dengan menghindari berbagai faktor risiko tersebut. Langkah ini dinilai penting agar kebutuhan transplantasi hati di masa mendatang dapat ditekan.

“Selama pasien dan calon donor masih sehat, kita harapkan kebiasaan yang bisa menyebabkan kelainan hati dapat dihindari. Proses pertama adalah identifikasi kasus. Sebagai learning curve, kita memilih kasus yang risikonya lebih rendah tetapi memang membutuhkan transplantasi,” ucap Dante menjelaskan.

Dante menyampaikan pasien sirosis hati dengan perdarahan berulang masih dapat menjalani transplantasi setelah melalui seleksi medis ketat. Pengembangan transplantasi hati juga menuntut peningkatan keterampilan dokter serta transfer pengetahuan dari ahli internasional kepada tim medis.

“Pasien ini memiliki sirosis hepatis dengan risiko yang masih bisa ditangani, tetapi sudah beberapa kali mengalami perdarahan hingga muntah darah akibat penyakit liver. Yang penting bukan hanya operasi, tetapi juga transfer manajemen pasien dari para ahli,” kata Dante.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....