Wamenkes: Transplantasi Hati Jadi Harapan Hidup Pasien Sirosis
- 10 Apr 2026 14:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan transplantasi organ menjadi terapi penting menyelamatkan pasien penyakit organ stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup.
- RSUP Fatmawati kembali melaksanakan prosedur transplantasi hati pada 9 April 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan transplantasi organ menjadi terapi penting menyelamatkan pasien penyakit organ stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wemenkes) Dante Saksono Harbuwono saat meninjau pasien transplantasi hati di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta.
Menurut Dante, transplantasi organ menjadi terapi definitif bagi pasien dengan penyakit kronis stadium lanjut. Ia menegaskan pada sejumlah kasus, transplantasi bahkan menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan hidup pasien.
“Beberapa penyakit terapi terakhirnya bahkan satu-satunya untuk menyelamatkan hidup pasien adalah dengan melakukan transplantasi. Baik itu transplantasi ginjal, kornea maupun transplantasi hati,” kata Dante Saksono Harbuwono saat konferensi pers di RSUP Fatmawati Jakarta, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan kunjungannya ke RS Fatmawati dilakukan untuk melihat langsung kondisi pasien yang telah menjalani transplantasi hati. Prosedur tersebut menjadi tonggak penting karena rumah sakit ini menjadi fasilitas pemerintah ketiga di Indonesia yang berhasil melakukan transplantasi hepar.
“Ini memang bukan yang pertama di Indonesia. Sebelumnya sudah dilakukan di RSCM dan RSUP Sardjito dan Fatmawati menjadi rumah sakit pemerintah ketiga yang melaksanakan transplantasi hati,” ujarnya.
Dante menjelaskan sebagian besar pasien yang membutuhkan transplantasi hati merupakan penderita penyakit hati kronik. Kondisi tersebut umumnya disebabkan infeksi hepatitis, konsumsi alkohol berlebihan, hingga berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati.
“Sirosis membuat hati mengeras dan tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal. Padahal hati berperan penting untuk detoksifikasi atau mengeluarkan racun dari dalam tubuh,” kata Dante menjelaskan.
Ia menambahkan jika racun tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh, kondisi pasien bisa menjadi sangat berbahaya bahkan berujung kematian. Dante juga mengungkapkan data epidemiologi menunjukkan sirosis hati menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia.
“Dari studi epidemiologi yang kami miliki, sirosis hati menempati urutan ketiga penyebab kematian di Indonesia dan sebagian besar dipicu oleh infeksi hepatitis B. Pemerintah mendorong penguatan layanan transplantasi organ di rumah sakit nasional agar semakin banyak pasien dengan penyakit organ kronis mendapatkan peluang hidup yang lebih baik,” ucap Dante menutup.
Diketahui, RSUP Fatmawati kembali melaksanakan prosedur transplantasi hati pada 9 April 2026. Tindakan ini menjadi transplantasi hati ketiga yang dilakukan rumah sakit tersebut, pada pasien yang mengalami sirosis hati akibat hepatitis B.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Fatmawati, dr. Muhammad Azhari Taufik, mengatakan prosedur dilakukan menggunakan pendekatan living donor liver transplantation. Dalam metode ini, donor organ berasal dari anak kandung pasien.
“Prosedur transplantasi hati dilakukan dengan pendekatan living donor. Di mana donor berasal dari anak kandung pasien,” ujar dr. Muhammad Azhari Taufik.
Ia menjelaskan keterlibatan keluarga dalam proses transplantasi menjadi bagian yang sangat bermakna, terutama dalam kondisi keterbatasan ketersediaan donor organ. Menurutnya, dukungan keluarga sangat berperan penting dalam penanganan penyakit hati tahap lanjut.
“Peran keluarga sangat penting dalam proses transplantasi, tidak hanya sebagai donor tetapi juga sebagai dukungan utama bagi pasien. Seluruh rangkaian proses dilakukan secara hati-hati untuk menjaga keselamatan pasien dan memastikan transplantasi berjalan dengan baik,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....