Dokter Meninggal akibat Campak, DPR Minta Pemerintah Rombak Strategi Imunisasi

  • 31 Mar 2026 13:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi IX DPR RI merasa sedih, atas meninggalnya seorang dokter muda akibat komplikasi campak di Cianjur, Jawa Barat
  • Politikus PKB ini mendorong, pemerintah mewajibkan vaksinasi campak bagi kelompok dewasa.
  • Kejadian ini adalah 'wake-up call' yang sangat serius, penyakit ini tidak bisa lagi dianggap remeh

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi IX DPR RI merasa sedih, atas meninggalnya seorang dokter muda akibat komplikasi campak di Cianjur, Jawa Barat. Anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa mengharapkan, pemerintah untuk segera merombak strategi imunisasi nasional.

Politikus PKB ini mendorong, pemerintah mewajibkan vaksinasi campak bagi kelompok dewasa. Terutama, bagi tenaga medis yang berada di garis depan dalam menangani kasus campak di Indonesia.

“Kejadian ini adalah 'wake-up call' yang sangat serius, penyakit ini tidak bisa lagi dianggap remeh. Karena terbukti berujung pada komplikasi mematikan, pemerintah harus menggencarkan imunisasi bagi orang dewasa," kata Neng Eem dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Neng Eem menegaskan, gugurnya AMW (26), seorang dokter internship (magang), harus menjadi titik balik bagi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Yakni, tidak lagi menganggap remeh risiko penularan campak pada orang dewasa.

"Selama ini, program imunisasi nasional hampir sepenuhnya terfokus pada anak-anak. Namun, mobilitas tinggi dan interaksi intensif tenaga medis dengan pasien membuat mereka menjadi kelompok yang paling rentan," ucap Neng Eem.

Kemudian, ia memperingatkan, rendahnya cakupan imunisasi di luar kelompok usia anak-anak terus menggerus ketahanan sistem kesehatan nasional. Tanpa adanya penguatan herd immunity di kelompok dewasa, potensi ledakan wabah di lingkungan kerja akan terus menghantui.

Neng Eem meminta, pemerintah segera melakukan pemetaan ulang dan memperluas akses vaksinasi campak dewasa di seluruh provinsi. Terutama wilayah-wilayah yang terdampak kejadian luar biasa (KLB).

“Rendahnya cakupan imunisasi berdampak langsung pada ketahanan nasional. Kita tidak boleh membiarkan kejadian memilukan ini terulang. Imunisasi harus diperluas, sekarang juga,” ujar Neng Eem.

Diketahui, data menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan hingga akhir Februari 2025. Pada 2025, tercatat 45 KLB campak di 29 kabupaten/kota dengan lebih dari 8.300 kasus terkonfirmasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....