Kemenkes Catat Kasus Campak Turun Drastis Tahun 2026
- 30 Mar 2026 17:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan tren penurunan signifikan kasus campak pada 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan tren penurunan signifikan kasus campak pada 2026. Kasus campak menurun menjadi 146 pada minggu ke-12 2026, dari 368 minggu sebelumnya dan 2.220 kasus awal tahun.
“Jika dibandingkan dari minggu pertama hingga minggu ke-12 tahun 2026. Kita melihat penurunan kasus campak sekitar 93 persen,” kata PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni saat konferensi pers di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.
Andi menyebutkan terdapat 14 provinsi mencatat kasus campak tinggi selama periode 2025–2026, termasuk Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat. Namun kini sejumlah daerah melaporkan penurunan signifikan hingga nol kasus, seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
“Kami juga melakukan surveilans di 10 kabupaten dan kota dengan kasus tertinggi. Ini juga termasuk Tangerang Selatan, Tangerang, Bima, Palembang, Pandeglang, hingga Jakarta Barat,” ucap Andi menjelaskan.
Meski tren penurunan terjadi di sebagian besar wilayah, Andi menegaskan kewaspadaan tetap perlu dijaga. Pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan melalui pemantauan kasus dan vaksinasi.
“Selain surveilans dan vaksinasi, kami juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan campak. Langkah ini dilakukan untuk melindungi tenaga kesehatan dan tenaga medis,” ucap Andi.
Selain itu, Kemenkes melakukan penyelidikan epidemiologi terkait meninggalnya tenaga kesehatan 25 tahun di Cianjur, Jawa Barat, diduga akibat campak. Korban sebelumnya sempat menangani pasien dengan gejala serupa sebelum kondisinya memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
“Beliau sempat memeriksa pasien campak pada 8, 19, dan 21 Februari 2026. Yang bersangkutan berdinas dua hari berturut-turut pada 15–16,” kata Andi.
Ia menambahkan kondisi tenaga kesehatan tersebut sempat memburuk hingga harus dilakukan intubasi. Namun, pasien akhirnya meninggal dunia dengan diagnosis akhir campak yang disertai gangguan pada jantung dan otak.
“Secara keseluruhan kasus campak di Kabupaten Cianjur relatif lebih rendah dibandingkan daerah dengan kasus tertinggi. Hingga kini tercatat 25 kasus suspek dengan sembilan kasus terkonfirmasi, serta tidak ditemukan kasus baru pada minggu ke-12,” ucap Andi menjelaskan.
Sebelumnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kasus campak di Indonesia tertinggi kedua di dunia. Ketua IDAI Jawa Barat Anggraini Alam mengatakan kasus campak di Indonesia saat ini memang cukup parah.
“Indonesia urutan kedua KLB (kejadian luar biasa) campak di dunia memang demikian, mau apa lagi. Dan kasus campak di 2025 yang konfirmasi jadi pasti-pastinya itu 11 ribu lebih, suspeknya itu 60-an ribu lebih," kata Anggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....