Deteksi Masalah Kesehatan Jiwa Anak, Kemenkes Perluas Cakupan CKG

  • 09 Mar 2026 16:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkomitmen untuk cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak hingga 14 juta orang pada 2026. Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi serta mencegah masalah kesehatan mental pada anak.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut pada 2025 program CKG baru menjangkau sekitar 7 juta anak dari target 25 juta anak. Hasil skrining nasional menunjukkan 338 ribu anak mengalami kecemasan, sementara 363 ribu lainnya terindikasi mengalami gejala depresi.

“Dalam tahun 2026 ini sudah ada empat anak yang meninggal. Mereka berasal dari NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur dengan usia 11 sampai 14 tahun,” kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.

Menkes menegaskan risiko bunuh diri pada anak tidak hanya dialami keluarga miskin, tetapi berbagai latar belakang sosial. Ia menyebut faktor keluarga dan lingkungan, termasuk konflik rumah tangga serta perundungan, menjadi pemicu utama tekanan mental anak.

“Penyebab paling besar ada di keluarga. Misalnya konflik atau pola asuh yang kurang tepat,” ujarnya.

Faktor kedua, lanjut Budi, berasal dari lingkungan sosial, seperti perundungan di sekolah yang dapat menimbulkan tekanan psikologis pada anak. Untuk itu, pemerintah akan memperluas skrining kesehatan jiwa agar potensi masalah mental pada anak dapat diketahui lebih dini.

“Kita harus mengedukasi bukan hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya, terutama ibu-ibu. Banyak yang tidak sadar bahwa pola asuh tertentu bisa membuat anak mengalami kecemasan hingga depresi,” kata Budi.

Selain keluarga, pemerintah juga akan melibatkan tenaga pendidik dalam upaya pencegahan. Guru diharapkan mampu mengidentifikasi tekanan sosial yang dialami siswa, termasuk kasus perundungan di lingkungan sekolah.

“Kami juga tetap membuka layanan bantuan darurat. Sehingga anak-anak yang mengalami tekanan bisa segera menghubungi layanan bantuan,” ucap Menkes Budi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa anak serta remaja membutuhkan komitmen dan kerja nyata semua pihak. Menurutnya, hal itu harus mendapatkan perhatian serius.

"Dibutuhkan langkah nyata yang lahir dari komitmen bersama yang kuat. Hal ini dilakukan untuk membangun mekanisme pencegahan dan penanganan kesehatan jiwa bagi generasi penerus bangsa," kata Lestari Moerdijat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....