Keterbatasan Radioterapi Dorong Adopsi Teknologi Presisi Kanker
- 23 Jan 2026 08:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, JAKARTA - Keterbatasan kapasitas layanan radioterapi masih menjadi tantangan serius dalam penanganan kanker di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung pada hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien kanker.
Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, Obrin Parulian, menyampaikan kapasitas nasional layanan radioterapi masih perlu diperkuat. Hingga Juni 2025, Indonesia baru memiliki 57 pusat layanan radioterapi dengan waktu tunggu panjang di sebagian fasilitas.
“Kapasitas nasional layanan radioterapi masih perlu terus diperkuat. Hingga Juni 2025, Indonesia memiliki 57 pusat layanan radioterapi, 22 persen di antaranya melaporkan waktu tunggu lebih dari satu bulan,” ujar Obrin saat peluncuran CT-LINAC di MRCC Siloam Semanggi, Jakarta, Kamis 22 Januari 2026.
Ia menegaskan keterlambatan layanan berpengaruh terhadap efektivitas terapi kanker. “Kondisi ini tentu berdampak pada hasil pengobatan serta kualitas hidup pasien,” katanya.
Secara umum, capaian pengobatan kanker di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan negara maju. Tingkat kelangsungan hidup pasien kanker payudara di Indonesia tercatat masih jauh lebih rendah.
“Secara umum, capaian pengobatan kanker di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara maju. Sebagai contoh, tingkat kelangsungan hidup pasien kanker payudara di Indonesia masih 40-50 persen lebih rendah,” ujar Obrin.
Menurutnya, rendahnya capaian tersebut dipengaruhi berbagai faktor sistemik. “Rendahnya deteksi dini, keterbatasan akses layanan onkologi, keterbatasan sumber daya, serta beban pembiayaan,” ucapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemanfaatan teknologi terapi kanker presisi dinilai semakin mendesak. Integrasi CT Simulator dengan Linear Accelerator menjadi salah satu terobosan penting.
“Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi terapi kanker yang lebih presisi dan terintegrasi menjadi sangat penting. Salah satu kemajuan tersebut adalah integrasi CT Simulator dengan Linear Accelerator, yang dikenal sebagai CT-Linac,” kata Obrin.
Teknologi ini memungkinkan terapi yang lebih akurat dengan risiko minimal terhadap organ sehat. “Melalui integrasi CT-Linac, radiasi dapat diarahkan secara optimal ke tumor dengan tetap meminimalkan risiko terhadap organ sehat,” ujarnya.
CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady menegaskan komitmen penguatan layanan kanker berbasis teknologi. Ia mengatakan adopsi teknologi presisi ditujukan untuk memperluas akses layanan kanker berkualitas.
“Kolaborasi kami dengan United Imaging mencerminkan komitmen kuat dalam mendukung Kemenkes untuk memperkuat layanan kanker di seluruh tingkatan. Penguatan kami mulai dari deteksi dini hingga pengobatan,” ujar Caroline.
Siap. Ini versi kalimat tidak langsung, dibagi 2 kalimat, rapi dan aman dipakai berita:
Melalui adopsi teknologi radioterapi canggih, kami berupaya meningkatkan presisi terapi dan kualitas penanganan pasien kanker. Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas akses layanan kanker berkualitas tinggi bagi masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara.
“Melalui adopsi teknologi radioterapi canggih ini, kami berupaya meningkatkan presisi terapi. Guna memperluas akses terhadap layanan kanker berkualitas tinggi bagi masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara,” ucanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....