KBRN, Kendari: Paparan waktu layar atau screen time yang berlebihan kini menjadi perhatian utama kesehatan anak dan remaja di Indonesia. Penelitian Universitas Negeri Surabaya menunjukkan anak usia sekolah menengah pertama menghabiskan rata-rata sekitar 41 jam per minggu di depan gadget atau komputer, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental mereka (Unesa, 2025).
Dampak screen time berlebihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi tumbuh kembang anak. Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan layar terlalu lama dapat mengganggu keterampilan motorik, perkembangan kognitif, dan perilaku anak, terutama jika tidak ada pendampingan orang tua atau jeda istirahat yang cukup (IDI, 2025). Anak balita dianggap paling rentan terhadap efek ini karena otak mereka sedang berkembang pesat.
Untuk mencegah dampak negatif screen time, para ahli mengimbau orang tua dan pendidik untuk membatasi durasi penggunaan layar serta memadukannya dengan aktivitas fisik dan interaksi langsung.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI memberikan panduan bahwa anak di bawah 18 bulan sebaiknya tidak menggunakan layar, anak usia 2–5 tahun maksimal satu jam per hari, dan anak usia lebih tua perlu dibatasi maksimal 2–3 jam per hari (Kemenkes RI, 2025). Dengan pengaturan tepat, screen time tetap bermanfaat untuk belajar dan hiburan tanpa mengganggu kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....