Sopir Angkot Bertahan di tengah Persaingan Transportasi Modern
- 06 Okt 2026 09:34 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari – Di tengah perkembangan transportasi yang semakin beragam, angkutan kota atau mikrolet masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Kendari. Bagi sebagian warga, angkot tetap menjadi pilihan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Salah satunya adalah Jumarudin Daeng Ngawe, seorang sopir angkot yang telah menjalani pekerjaannya sejak tahun 1982. Puluhan tahun berada di balik kemudi, membuat pekerjaan ini menjadi bagian dari kehidupannya.
"Sejak tahun 1982 saya jadi sopir angkot di Kendari, karena ini mata pencarian, tidak ada lain yang bisa saya kerja," tutur jumarudin, saat menunggu penumpang di depan pasar Basah Mandonga Kendari, Senin, 5 Oktober 2026.
Sejak pagi, Jumarudin mulai menjalani rutinitasnya sebagai sopir angkot. Ia membawa angkot dengan rute Mandonga–Kota dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk mencari penumpang.
"Saya keluar dari rumah cari penumpang jam setengah enam pagi dan pulang jam empat sore atau jam lima, rutenya Mandonga - Kota. Sewa angkot untuk umum Rp 7.000 dan mahasiswa Rp 5.000," ujarnya.
Meski harus bekerja sejak pagi hingga sore hari, penghasilan yang diperoleh Jumarudin tidak selalu sama setiap harinya. Angkot yang dikemudikannya juga merupakan milik orang lain.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi sumber penghidupannya selama puluhan tahun.
"Biasa juga saya bawa pulang uang sekitar Rp 120.000, tapi kalau kotornya per hari itu kadang Rp 200.000 lebih kotor. Ini juga mobil orang lain yang saya bawa," kata bapak yang sudah berusia 65 tahun ini.
Bagi Jumarudin, keberadaan penumpang menjadi bagian penting dalam keberlangsungan pekerjaannya. Ia berharap tetap ada masyarakat yang menggunakan jasa angkot sehingga para sopir masih dapat memperoleh penghasilan dari pekerjaan tersebut.
Kini, kedua anak Jumarudin telah menyelesaikan pendidikan dan sudah berkeluarga. Namun, ia tetap memilih bertahan di balik kemudi karena pekerjaan tersebut telah menjadi mata pencaharian yang dijalaninya sejak tahun 1982.
Di tengah persaingan transportasi yang semakin beragam, keberadaan transportasi online seperti Gojek, Grab, dan Maxim menjadi pilihan baru bagi masyarakat. Meski demikian, angkot masih memiliki pengguna, terutama karena tarifnya yang relatif terjangkau.
Salah satunya adalah Irfan, mahasiswa yang mengaku hampir setiap hari menggunakan mikrolet untuk menuju kampus. Baginya, angkot menjadi pilihan karena dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan.
"Saya kalau mau dibilang hampir setiap hari saya menggunakan mikrolet, angkot seperti PT-PT untuk ke kampus. Karena jarak antara kos-kosan saya dengan kampus lumayan cukup jauh dan untuk menghemat waktu dan biaya, saya memilih mikrolet untuk berangkat ke kampus sebagai transportasi," jelas Irfan.
Menurut Irfan, transportasi online memang lebih praktis karena masyarakat cukup memesan melalui aplikasi dan kemudian dijemput. Namun, mikrolet tetap memiliki kelebihan dari sisi biaya yang lebih murah. (Andika Mardani - UHO)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....