Dari Wartawan Daerah hingga Motivator Hebat, Aqua Dwipayana Ungkap Kunci Sukses

  • 30 Agt 2026 08:30 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Sleman – Sebanyak puluhan wartawan dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengikuti kegiatan Capacity Building Media yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sultra di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung hangat tersebut menghadirkan motivator nasional sekaligus mantan wartawan, Dr. Aqua Dwipayana, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Aqua mengungkapkan beberapa makna hidup yang selalu ia pegang dan sampaikan ke mana pun ia pergi.

“Kenapa saya diundang? Jadi ini ada bicara tiga makna hidup yang selalu saya sampaikan di mana-mana. Bagaimana kita ini mengawalnya dengan berdoa. Tanpa Allah, tanpa Tuhan, kita tidak bisa ngapa-ngapain. Kemudian bagaimana kita ini selalu bekerja,” ujarnya di hadapan para wartawan.

Ia menegaskan bahwa profesi wartawan adalah profesi yang sangat mulia dan jangan sampai dinodai oleh perilaku yang tidak profesional.

“Profesi wartawan sangat mulia. Jangan dinodai. Saya bersyukur pernah jadi wartawan. Tapi saya lebih bersyukur lagi menjadi orang seperti sekarang ini sebagai motivator,” tuturnya.

Dr. Aqua mengaku perjalanan kariernya telah membawanya ke berbagai penjuru dunia dan Nusantara.

“Sudah jalan ke 38 provinsi, sudah jalan ke 35 negara, sudah berbicara dengan 3 juta orang lebih, dan juga sudah banyak menulis buku,” ungkapnya.

Ia mendorong para wartawan untuk terus meningkatkan kemampuan, baik secara formal maupun informal.

“Saran saya, setiap ada kesempatan meningkatkan kemampuan, formal maupun informal, lakukan. Karena apa? Kalau kita bicara ini, satu-satunya kekayaan manusia yang tidak bisa dijual kepada siapapun, kecuali diambil oleh Allah, adalah ini,” jelasnya.

Dr. Aqua juga meyakinkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang tidak bisa.

“Nggak ada yang nggak mungkin, nggak ada yang nggak bisa. Nah, nanti begitu selesai S2, teman-teman ambil S3 sampai seterusnya. Ruginya nggak ada, manfaatnya besar,” katanya.

Menurutnya, penghargaan yang ia terima dari berbagai lembaga bukan karena koneksi, melainkan karena kemampuan dan integritas.

“Saya dihargai orang selain karena integritas, karena soft skill, yang utama karena kemampuan. Kalau nggak, nggak mungkin saya diundang Bapak Edwin. Kalau saya diundang OJK, sudah sangat sering. Baik OJK di daerah maupun di pusat,” ungkapnya.

Dr. Aqua mengaku istrinya juga merupakan pejabat di OJK dan mantan pegawai Bank Indonesia, namun hubungan profesionalnya tetap berjalan tanpa intervensi.

“Istri saya nggak kenal sama Pak Edwin, nggak kenal dia waktu itu. Pak Edwin juga nggak kenal sama istri saya. Jadinya ini jalan masing-masing karena kemampuan,” tegasnya.

Ia pun bercerita tentang kedekatannya dengan Yogyakarta karena memiliki rumah di kota tersebut.

“Sebelum saya lupa, saya tinggal di Bogor, tapi saya ada rumah di Yogyakarta. Makanya kalau mengundang saya ke Yogyakarta itu senang banget. Nggak perlu menyiapkan hotel, nggak perlu menyiapkan kamar,” katanya sambil tersenyum.

Ia bahkan mengaku tidak keberatan jika dipersilakan naik transportasi ekonomi oleh penyelenggara.

“Saya biasanya kalau diundang itu standar saya pesawat Garuda kelas bisnis. Pak, boleh nggak ekonomi? Oh, nggak apa-apa, ekonomi silakan. Kalau kereta ekonomi nggak apa-apa, nggak ada masalah juga,” ujarnya.

Bagi Dr. Aqua, esensi dari berbagi dan hadir di tengah wartawan bukanlah soal materi, melainkan manfaat yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

Dalam kesempatan itu, Dr. Agua juga membagikan beberapa buku kepada wartawan, salah satunya berjudul ”The Power of Silaturahim” yang berisi tentang Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi yang ditulis oleh dirinya.

“Termasuk buku ini, saya senang sekali berbagi. Kenapa? Esensinya bukan orang yang beli buku saya. Tapi yang utama adalah ketika orang membaca, termotivasi untuk melaksanakan apa yang ada dalam buku itu,” terangnya.

Ia mengajak rekan-rekan wartawan untuk tidak terlalu hitung-hitungan dalam bekerja dan menjalin hubungan.

“Jadi intinya apa? Jangan hitung-hitungan. Yang penting bermanfaat,” pesannya.

Dr. Aqua juga menjelaskan tentang peran keluarga dalam kehidupan seorang wartawan.

“Teman-teman ini sibuk. Yang namanya kerja itu sampai kita pensiun dan meninggal, tidak pernah selesai. Tapi satu hal, bahwa ada waktu dan itu bersama keluarga,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kesuksesan seorang wartawan tidak hanya diukur dari karier, tetapi juga dari kebahagiaan dan keberkahan keluarganya.

“Teman-teman dikatakan sukses tidak semata-mata sukses sebagai profesi, sebagai jurnalis. Tapi yang utama adalah sukses mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan anak-anak yang lebih sukses,” ungkapnya.

Dr. Aqua kemudian menceritakan perjalanan pendidikan dan pengalaman putra sulungnya, Savero Karamiveta Dwipayana atau akrab disapa Ero.

“Anak saya yang paling besar, Ero (Savero Karamiveta Dwipayana), alumni dari perguruan tinggi terbaik di Korea Selatan, Korea University Business School. Dia masuk ke sana karena kemampuan dan beasiswa. Kalau kuliah normal di sana sampai tamat, membutuhkan dana satu atau dua miliar. Ini gratis,” ceritanya.

Ero disebutnya telah mengunjungi lebih dari 50 negara dengan uang pribadi, bahkan lebih banyak dari dirinya yang baru menginjakkan kaki di 35 negara.

“Saya baru jalan 35 negara, dia sudah jalan lebih dari 50 negara dengan uang pribadi. Dia senang backpacker. Dia sudah berangkat haji tahun 2012 dari Korea. Bapak ibunya masih waiting list, nggak tahu kapan,” ujar Dr. Aqua.

Menurutnya, Ero juga pernah menjadi bagian dari tim inti juru bicara nasional penanganan Covid-19 dan G20, di samping dokter Reisa dan Maudy Ayunda.

“Ketika Covid, Ero menjadi salah satu tim inti yang ditelepon oleh Pak Doni untuk membantu beliau. Selama 24 jam bisa berkomunikasi dengan Pak Doni,” kenangnya.

Ero menolak tawaran posisi strategis demi memperdalam kemampuan dan pengalamannya di luar negeri.

“Ero berdiplomasi, 'Dok, saya masih banyak belajar di luar dunia.' Saya sangat senang ketika dia lebih memilih untuk meningkatkan kemampuan dan pengalamannya dulu. Tidak tergiur dengan jabatan-jabatan itu,” katanya.

Dr. Aqua mengungkapkan empat prinsip utama yang dijalaninya bersama keluarga, yaitu pendidikan agama sejak dini, makanan halal, pola asuh demokratis, dan membangun kedekatan komunikasi.

“Pertama, sejak usia dini beri pendidikan agama. Bapak ibu ini sibuk, apalagi ketika sedang di sini semua tidak bisa mengontrol anak-anaknya. Dengan agama, dia memfilter,” jelasnya.

“Yang kedua, jangan pernah berikan makanan atau minuman yang haram kepada keluarga kita. Yang bukan hak kita, jangan diambil. Begitu diberikan kepada keluarga, hancur keluarganya,” imbuhnya.

“Yang ketiga, jadilah orang tua yang demokratis. Jangan memaksakan kehendak. Saya dengan anak-anak saya seperti teman-teman saja,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua selalu responsif terhadap kebutuhan anak-anaknya.

“Begitu anak kita mengakses sesuatu, langsung kita respons. Karena begitu dia tidak menemukan saluran di orang keluarga, dia akan mencari saluran yang lain. Begitu salurannya salah, dia bisa terkena geng motor, narkoba, dan akhirnya penyesalan,” ujarnya.

Dr. Aqua menegaskan bahwa ia tidak pernah membiasakan anak-anaknya mengandalkan nama besar atau koneksi orang tua.

“Istri saya sangat ingin Ara dan Ero saat itu bekerja di Bank Indonesia atau OJK. Tapi mereka bilang, 'Bu, Ibu saja ya. Kami biar kerja di perusahaan asli.' Akhirnya Ara bekerja di perusahaan Korea dan Ero bekerja di perusahaan Amerika. Dan itu karena kemampuan mereka, bukan karena orang tua,” ujarnya.

Ia selalu mendorong kemandirian dan kesiapan anak-anak tanpa bergantung pada orang tua.

“Jadinya mereka mandiri. Mereka siap tanpa orang tua. Bagaimana kita mau mempersiapkan diri?” tanyanya.

Dr. Aqua juga mengungkapkan bahwa silaturahim adalah salah satu kunci rezeki yang mengalir dalam kehidupannya.

“Dari silaturahim itu rezekinya mengalir. Yang penting satu, silaturahimnya tanpa pamrih,” tuturnya.

Ia berpesan agar wartawan selalu menjaga kredibilitas dan integritas.

“Teman-teman ini menjadi jurnalis yang kredibel, yang layak dipercaya. Teman-teman kalau tidak kredibel, tidak akan diundang BI Sultra,” katanya.

Ia mengingatkan tantangan profesi wartawan di era digital, termasuk fitnah dan tekanan sosial.

“Saya punya keyakinan banyak yang ingin ikut. Banyak sekali. Bila perlu sangat banyak sekali. Dan pasti, mohon maaf, saya kan pernah jadi wartawan. Kalau pergi-pergi begini, fitnahnya banyak banget. Kalau orang sudah melihat, fitnah. Benar kan? Saya paham,” ujarnya.

Dr. Aqua juga mengisahkan pengalaman pahitnya saat menjadi wartawan di Malang dan dimusuhi oleh rekan-rekannya karena ia menolak bertransaksi dalam pemberitaan.

“Saya ketika menjadi wartawan di Jawa Pos di Malang, mobilitas saya rata-rata bisa 4–5 kali, bahkan pernah sampai 9 kali. Jadinya karena saya wartawan daerah, saya tidak tahu diri kalau merebut halaman daerah dua halaman. Pasti berat,” kenangnya.

Meski demikian, ia tetap memilih jalan yang ia yakini benar.

“Saya tidak mau nilai saya diberikan dengan recehan. Walaupun ketika saya seperti itu, ketika saya di Malang, saya dimusuhi wartawan Malang, tidak ada masalah. Pertanggungjawabannya kepada Allah,” tegasnya.

Pengalamannya bergabung dengan Jawa Pos pun tidak lepas dari lika-liku dan keputusan berprinsip.

“Saya masuk Jawa Pos semester IV, umur 20 tahun. Tidak pakai lamaran, langsung Pak Dahlan yang meminta saya. Bukan karena saya,” jelasnya.

Dr. Aqua mengakhiri sesi dengan pesan agar setiap wartawan bekerja dengan sepenuh hati, bukan sekadar sepenuh gaji.

“Jadinya bagaimana kita bekerja dengan sepenuh hati, bukan sepenuh gaji. Kalau sepenuh hati itu totalitas. Tapi kalau sepenuh gaji itu hitung-hitungan,” pesannya.

Ia berharap wartawan dapat menjadi jembatan informasi yang jujur dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Selagi memiliki kesempatan, beritakanlah kebenaran secara objektif dan hindari kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....