BMKG Paparkan Karakteristik El Niño, La Niña, dan Ancaman Nyata bagi Indonesia

  • 28 Agt 2026 15:21 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Sebagai negara kepulauan yang membentang di sepanjang garis khatulistiwa dan diapit dua samudra luas, Indonesia memiliki dinamika iklim yang sangat dipengaruhi oleh anomali atmosfer dan lautan skala global. Salah satu fenomena iklim terpenting yang kerap memicu fluktuasi cuaca ekstrem di tanah air adalah ENSO (El Niño-Southern Oscillation).

Melalui kanal edukasi dan pemantauan Climate Early Warning System (CEWS), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menguraikan secara komprehensif mekanisme kerja El Niño dan La Niña, variasi dampaknya terhadap curah hujan musiman, mitos cuaca yang beredar di masyarakat, hingga spektrum ancaman bencana hidrometeorologi yang patut diwaspadai.

1. Apa Sebenarnya ENSO, El Niño, dan La Niña?

ENSO adalah fenomena anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang berinteraksi erat dengan sirkulasi atmosfer di atasnya, yaitu Sirkulasi Walker. Siklus ini berulang setiap beberapa tahun sekali dengan durasi bervariasi antara beberapa bulan hingga mencapai dua tahun.

  • El Niño (Fase Hangat):

    Istilah El Niño berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki” (merujuk pada bayi Yesus / El Niño de Navidad). Nama ini disematkan oleh para nelayan Peru pada abad lampau saat mengamati arus laut hangat yang mengalir ke arah selatan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador menjelang perayaan Natal. Secara ilmiah, El Niño ditandai dengan meningkatnya suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur melampaui kondisi normalnya hingga mendekati garis tanggal internasional. Pemanasan ini menarik pusat pembentukan awan konvektif menjauhi kawasan Indonesia.

  • La Niña (Fase Dingin):

    Merupakan kebalikan dari El Niño, yang secara harfiah bermakna “anak perempuan”. Fenomena ini ditandai dengan suhu permukaan laut di Pasifik tropis tengah dan timur yang jauh lebih dingin dari kondisi normalnya. Hal ini memicu penguatan sirkulasi angin pasat dan mendorong penumpukan massa uap air basah di atas perairan Nusantara.

2. Peta Dampak Musiman terhadap Curah Hujan di Indonesia

BMKG menekankan bahwa dampak El Niño dan La Niña terhadap curah hujan di Indonesia tidak berlangsung secara seragam sepanjang tahun, melainkan sangat bergantung pada periode musim dan interaksinya dengan sistem Monsun Asia-Australia:

  • Periode Juni – Agustus: Fase La Niña menyebabkan curah hujan melonjak signifikan, yakni 20% hingga lebih dari 40% di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sebaliknya, fase El Niño menyebabkan curah hujan anjlok drastis lebih dari 40% di seluruh kepulauan nusantara.
  • Periode September – November: Peningkatan curah hujan akibat La Niña terpusat di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur. Pada saat yang sama, El Niño terus memperluas area pengurangan curah hujan.
  • Periode Desember – Februari: Pengaruh La Niña lebih terasa pada peningkatan curah hujan di wilayah timur, sementara bagian barat dan tengah tidak terlalu meningkat karena dipengaruhi monsun. Sementara itu, pengurangan curah hujan akibat El Niño mendominasi wilayah tengah dan timur Indonesia.
  • Periode Maret – Mei: La Niña berfokus pada peningkatan hujan di kawasan kepulauan Indonesia timur. Dampak El Niño pada periode ini sangat beragam, di mana sejumlah daerah masih tetap berpeluang diguyur hujan lokal.
3. Meluruskan Dua Mitos Populer Seputar Iklim

Terdapat beberapa kesalahpahaman umum yang sering muncul di tengah publik saat fenomena ENSO berlangsung:

  1. Mitos: Saat El Niño Melanda, Tidak Ada Hujan Sama Sekali?

    Fakta Ilmiah: Kendati El Niño memangkas curah hujan bulanan lebih dari 40% (khususnya pada periode musim kemarau JJA dan SON), kondisi tersebut bukan berarti hujan hilang secara mutlak. Pada periode DJF dan MAM, beberapa kawasan di Indonesia tetap mengalami hujan, bahkan ada yang mengalami peningkatan intensitas hujan lokal akibat dorongan angin monsun barat.

  2. Mitos: Saat La Niña Terjadi, Musim Kemarau Hilang Sepenuhnya?

    Fakta Ilmiah: La Niña meningkatkan intensitas hujan sebanyak 20–40% pada periode yang semestinya kering. Kondisi ini tidak menghapus fase kemarau, melainkan menciptakan fenomena “Kemarau Basah”, di mana hari-hari kemarau tetap sering diselingi oleh guyuran hujan lebat.

4. Jejak Sejarah: Pembelajaran dari Peristiwa Ekstrem 1997 dan 2010

Catatan iklim historis BMKG mendokumentasikan dua tolok ukur kejadian ENSO ekstrem terkuat di Indonesia:

  • El Niño Ekstrem 1997: Memicu penurunan curah hujan tiga bulanan secara sangat drastis (extremely low rainfall) di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kondisi ini menyebabkan bencana kekeringan multidimensi, defisit air waduk, dan kebakaran hutan serta lahan (Karhutla) terparah dalam sejarah modern.
  • La Niña Kuat 2010: Ditandai dengan curah hujan rata-rata nasional yang berada jauh di atas normal (extremely high rainfall) sepanjang periode MAM hingga SON, melanda Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan nyaris tanpa jeda musim kering.
5. Spektrum Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Kedua fase ekstrem ENSO membawa risiko bencana hidrometeorologi dengan karakter yang saling bertolak belakang:

  • Potensi Bencana saat La Niña:

    Tingginya intensitas dan frekuensi hujan meningkatkan ancaman banjir genangan, banjir bandang luapan sungai, tanah longsor di kawasan perbukitan/lereng curam, angin puting beliung, serta peningkatan risiko cuaca ekstrem dan badai tropis.

  • Potensi Bencana saat El Niño:

    Defisit curah hujan memicu kekeringan meteorologis, krisis air bersih bagi rumah tangga dan industri, kekeringan lahan pertanian berujung puso (gagal panen), serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berdampak lanjutan pada krisis polusi asap pekat, pelemahan ekonomi, dan ketahanan sosial.

Kesiapsiagaan dan Mitigasi Berbasis Informasi Dini

BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi pengelola sumber daya air, sektor pertanian dan energi, serta masyarakat luas untuk selalu memantau pembaruan status prediksi ENSO melalui kanal resmi CEWS BMKG (cews.bmkg.go.id). Pemanfaatan sistem peringatan dini iklim secara proaktif memungkinkan perumusan langkah mitigasi lebih awal (early action)—seperti optimalisasi tampungan waduk saat La Niña maupun penghematan air serta penyesuaian pola tanam saat menghadapi El Niño.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....